Permenungan hari ini berhenti berpura-pura seperti Nikodemus. Iman yang sejati itu bukan seberapa hafal kita pada doa atau seberapa rapi ibadat kita. Iman itu kerja nalar dan budi yang digerakkan oleh Roh di kedalaman jiwa.
Jadi murid Yesus adalah tentang keberanian untuk jujur. Di tengah dunia yang sering kali penuh topeng, kita dipanggil untuk memiliki iman yang bernyali:
- Berani Berempati: Tidak sekadar kasihan, tapi benar-benar hadir dan merasakan duka mereka yang menderita. Empati adalah bentuk kesaksian (martyria) yang paling nyata.
- Berani Mengakui Kebenaran: Seperti Nikodemus yang akhirnya muncul di saat paling kelam (saat penyaliban), kita dipanggil berpihak pada nilai-nilai kehidupan, bahkan ketika situasi terasa buntu dan penuh derita.
Kita realistis dalam perjalanan: Sadar, bahwa jalan kemuridan memang melewati duka. Tapi kita tidak berjalan sendiri, melainkan dengan jiwa yang dipandu oleh Roh.
Tubuh kita bisa lelah dan fana, tapi sikap hormat dan kasih yang kita tanam itu akan tetap hidup.
Mari jadi murid yang tidak hanya membawa simbol, tapi membawa hati yang berani melayani sampai akhir.
Mari berempati dengan ‘Via Dolorosa’!
Berkah Dalem.
Jlitheng

