1.
Tetes-tetes darah cinta
Mengalir dari Getsemani ke Yerusalem
Ciuman sahabat yang berkhianat dibasuh
Ngantuk dan kelemahan diri dicuci
Keberanian semu dan pembelaan berpamrih dibilas
Nafsu balas dendam dihalau
Cinta itu menyelamatkan meski harus berkorban darah
Kasih itu memberi bahagia biarpun harus terluka
Memang tak mudah rasanya
tetapi bisa dilakukan faktanya
Jika setia dan mengandalkan kekuatan rahmat Sang Maha Cinta
Jika berani meraih amanat harkat martabat kita
sebagai ciptaan Allah dan citra-Nya
2.
Luka-luka kasih sayang
melantunkan tanya
terus berjalan dari Yerusalem ke Golgota
Kebenaran cinta menggugat kepongahan nafsu kuasa
Ketulusan kasih sayang menyingkap fakta lara derita
Kehendak Ilahi menyibak panggung sandiwara dunia
Nafsu harta dan kuasa menggunakan senjata
terus berkobar tampilkan kehebatannya
Pikiran manusia ditagih membuat pilihan harkat martabatnya
Setia kepada Allah atau taat pada selera
Kejujuran dan kebenaran mahal harganya
meski harus korbankan nyawa
sedangkan gengsi selera terus berpesta pora bangga
3.
Darah cinta Ilahi dan luka kasih misteri
Membalut salib hakikat kehidupan manusia
berziarah abadi dalam sejarah
Takhta kekuasaan selalu mempesona
bahkan direbut dengan nama Allah
agar puaskan selera untuk menumpuk harta
agar bisa memiliki segalanya entah apa pun caranya
agar bisa merampok hak sesama
bahkan harus menindas dan menghilangkan nyawanya
Hukum diciptakan untuk langgengkan tahta kuasa
aturan dibuat agar rakyat diam tak berdaya
Hukuman salib adalah proklamasi kehebatan takhta kuasa
Tetapi darah cinta dan luka kasih
mengalahkan kuasa dengan nyawa-Nya
4.
Darah cinta dan luka kasih-Nya
Memeluk setia salib hidup pribadi insani
dengan tangan kuasa paling misteri
“apakah engkau mencintai hidup pribadimu
apakah engkau mengasihi sesama seperti mengasihi dirimu sendiri”
Pertanyaan itu dimeteraikan bagi anak generasi
Karena kita adalah putera cinta-Nya
Karena kita adalah Puteri kasih-Nya
Aku, engkau, dia
kita terlahir tanpa meminta
untuk jadi duta cinta di tengah dunia
untuk membawa kasih sayang bagi sesama saudara
Namun…
Apakah kita tahu dan menyadarinya
Apakah kita bersedia dan mau melakukannya
Setiap orang mempunyai hal kehendak bebasnya
maka terserah membuat pilihan menurut dirinya
5.
Dari atas salib Golgota
terdengar maklumat tanya itu terus menggema
“Beranikah engkau mencintai salib hidupmu?
Banggakah engkau mengasihi sesamamu seperti mengasihi dirimu
Maukah engkau mengampuni mereka yang bersalah padamu
seperti engkau pun mau diampuni kesalahanmu”
Hari ini…
Aku, engkau dan dia
kita memeluk salib masing-masing
Dari rahim ke tengah dunia
entah diterima sebagai berkat atau kutukan
Dari kecil hingga saat ajal tiba
entah kehendak pribadi yang ditaati
entah berjuang menuruti kehendak Ilahi
Hari ini…
tanya hakiki kembali menggugat diri
Apakah bisa menerima dan mencintai salib darah
Maukah mengasihi lara derita luka sengsara
Entah mengapa salib hina dina
justru menjadi pilihan Sang Maha Cinta
Entah ada apa darah luka sengsara dilakukan Putera Surga?

