“Semua orang boleh mengklaim diri sebagai pencinta, tapi hanya mereka yang berani berkorban untuk orang-orang yang dicintainya itu yang layak disebut sebagai pencinta sejati, karena sesungguhnya mereka berani mencintai sampai terluka.”
Entah kepada siapa Bryan Adams menulis syair lagunya atau melukiskan tentang cinta siapa, namun rasanya kata-katanya cocok untuk mengenang pengorbanan Yesus di kayu salib untuk kita. Mendengar syair lagu, “everything I do I do it for you,” bahkan ia menambahkan “I’d die for you,” kita teringat akan cinta Yesus yang diberikan kepada kita tanpa syarat dan batas. Sangat luar biasa, bahwa Yesus telah melakukan pengorbanan terbesar dan terberat untuk kita, yakni Ia mati demi menebus dosa-dosa kita di kayu salib. Ya, segalanya telah diberikan kepada kita bahkan nyawa-Nya sendiri.
Ketika mengenang sengsara Tuhan Yesus, yakni kematian-Nya, kita diingatkan bahwa:
- 1) Ada seorang pribadi yang telah mati untuk kita, yakni Yesus;
- 2) Ia mati untuk kita, tapi Ia tidak meminta kita untuk mati juga untuk-Nya, melainkan agar kita hidup dan dapat saling menghidupi;
- 3) Kita hanya layak disebut pencinta sejati, bila kita berani berkorban untuk orang-orang yang kita cintai.
Akhirnya sadarlah, bahwa di salib ada sengsara dan kematian, tapi kematian-Nya akan mendatangkan penebusan bagi saudara dan aku. Hutang dosa kita telah dibayar lunas dengan darah Yesus.
Selamat Mengenangkan wafat Tuhan Yesus untuk para sahabat.
…
Monsignor Inno Ngutra, Pr

