Hari Kamis dalam Pekan Suci dinamakan Kamis Putih, karena pertama-tama warna perlengkapan dan busana liturgi pada perayaan hari ini adalah putih. Warna ini melambangkan sukacita dan kejayaan. Perayaan berpusat pada Yesus Kristus dengan penekanan pada tindakan-tindakan-Nya yang menunjukkan kemuliaan, sukacita, kekuasaan, dan pesta.
Di dalam perayaan terdapat seremoni Yesus yang membasuh kaki para Rasul-Nya. Tindakan ini mengajarkan agar kita saling melayani dengan rendah hati. Hal ini merupakan suatu sukacita besar. Suasana sukacita dan kejayaan cinta kasih di antara kita dapat terungkap melalui saling melayani. Yesus bersabda, bahwa kita harus saling mengasihi seperti Ia sendiri mengasihi kita. Ia mengajarkan kita hukum terbesar-Nya, ialah mencintai sesama kita.
Perayaan pada pengenangkan kita akan Ekaristi, kurban Misa agung yang ditetapkan oleh Yesus Kristus. Perkataan dan perbuatan cinta kasih jelas merupakan sukacita dan tanda kehadiran kemuliaan Tuhan. Perayaan Ekaristi ini sangat jelas merupakan sukacita penjelmaan firman Tuhan jadi tubuh-Nya yang dibagikan bersama sebagai satu jemaat. Bersamaan dengan Ekaristi, Yesus menetapkan Sakramen Imamat. Ini adalah suatu sukacita penting bagi Gereja, karena Imamat ini untuk menjalankan Ekaristi dalam Gereja. Imamat adalah untuk menjalankan kuasa Tuhan yang memimpin jemaat dan membimbing mereka kepada terang dan kebenaran Tuhan.
Di dalam perayaan ini kita juga mengenangkan saat-saat kritis Yesus berada di Taman Getsemani, di mana butir-butir keringat darah-Nya mengalir dan menetes untuk mengantar-Nya kepada kejayaan salib yang sudah di depan mata. Suasana Taman Getsemani menggambarkan cobaan dan kesulitan yang membuat hidup ini terasa tidak nyaman dan aman. Tapi seperti Tuhan, kita mesti melewatinya dengan berani.
Antara Gestemani dan Golgota adalah saat-saat krusial di ambang penderitaan. Biasanya godaan itu selalu datang untuk membawa kita lari dari kenyataan pahit. Yesus sendiri berkata: “Ya, Bapa, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku.” Kita mesti mengikuti Sang Guru, Yesus Kristus untuk dapat mengalahkan godaan itu, dan menyanggupi meminum cawan penderitaan. Ini adalah sebuah sukacita.
Meskipun kita semua adalah orang-orang berdosa yang sering melawan Tuhan dan sesama, kita tidak kehilangan iman kepada Tuhan. Kita sebagai satu jemaat yang masih tetap menikmati sukacita Ekaristi dan Imamat Tuhan Yesus Kristus yang menguduskan dan membuka jalan keselamatan kepada kita.
“Tuhan Yesus Kristus, kuatkanlah iman kami untuk tetap percaya dan setia pada Ekaristi sebagai sarana keselamatan kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

