“Diremehkan dan direndahkan orang lain itu jangan membuat kita tertekan dan stres. Lebih baik kita mengasihinya agar jadi kuat dan bijak.” -Mas Redjo
…
Hal itu saya sampaikan ke istri agar tidak berprasangka buruk dan sensi terhadap tetangga, karena kita ini warga baru di komplek perumahan. Meski saya merasakan hal yang sama dengan istri, tapi tidak mengungkapkannya agar tidak membebani pikirannya. Sebaliknya saya membesarkan hatinya untuk senantiasa ramah dan baik pada tetangga.
Tidak sekali dua, saya diremehkan dan disinisi dengan sikap tetangga, ketika menyinggung penjualan yang minim. Saya mengirim barang itu menggunakan ojek, karena tidak mempunyai motor.
“Bersyukur, cukup untuk makan dan menyekolahkan anak,” jawab saya enteng, tidak mau memperpanjang alasan atau bercerita.
Bagi saya pribadi, yang penting keluarga saya tidak kelaparan dan merecoki orang lain, khususnya warga komplek.
Pada istri, saya meminta agar fokus mengurus dan masa depan anak. Mengurusi komentar orang itu tiada selesainya, dan lebih baik itu diam. Bersosialisasi itu seperlunya, dan menjauhi bergosip atau ingin tahu urusan orang lain, karena itu pamali dan bakal mencemari hati sendiri.
Jika diremehkan dan direndahkan itu umumnya kita tidak menerima, membela diri, atau membalasnya. Saya mengambil hikmatnya. Tidak untuk ajang pembuktian diri, karena berarti saya sakit hati, mendendam, dan membalas mereka. Sebaliknya saya bertambah semangat dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik dari diri ini agar ekonomi keluarga makin membaik.
Untuk meredam nyinyiran tetangga yang senang meremehkan dan merendahkan itu, saya tetap ramah dan bersikap baik pada mereka. Saya melakukan semua itu, karena menerapkan nasihat bijak Guru Agung.
“Rendahkanlah dirimu serendah-rendahnya agar orang lain tidak bisa merendahkanmu lagi.”
Tetap bersahaja, rendah hati, dan bahagia!
…
Mas Redjo

