Salah satu dari 12 Rasul Yesus yang mati lebih dahulu ini bernasib tragis yang sangat negatif. Dikatakan begini untuk membedakan nasib tragis yang dialami hampir semua Rasul lainnya yang kemudian hari mati sebagai martir Gereja. Yudas mati amat tragis dan sangat tidak bermartabat.
Kisah itu terjadi lebih dari 2000 tahun lalu, persisnya pada saat hukuman mati dijatuhkan kepada Yesus melalui pengadilan yang tidak adil. Kita yang mengenang peristiwa ini, khususnya dalam setiap tahun sekitar hari Pekan Suci, memandangnya sebagai pelajaran yang kaya dengan nilai-nilainya. Semua pelajaran itu merupakan tantangan Yudas Iskariot yang perlu dihadapi sebagai bagian dari pembentukan iman kita kepada Kristus dalam sepanjang hidup masing-masing.
Tantangan Yudas yang paling menonjol bagi kita saat ini ialah cinta akan materi. Gaya hidup yang bertumpu hanya pada uang dan harta benda, alias materialistis. Dari gaya ini timbul aneka kejahatan lain seperti pencurian, korupsi, diskriminasi, perang, dan terorisme. Kita sebagai pengikut Kristus yang baik, tentu saja tidak ingin bernasib seperti Yudas, hanya berjuang demi materi akhirnya menemukan hidup yang hampa.
Tantangan politisasi agama merupakan aspek yang lumayan penting bagi kita. Baik Yudas dan para Rasul lainnya maupun para pemuka Yahudi itu mempunyai kepentingan politik. Mereka ingin supaya ada Mesias yang hadir bagi mereka. Dengan bantuan Mesias, mereka harus dibebaskan dari penjajah Romawi. Tapi mereka salah paham dan mati langkah. Yesus bukan untuk mereka.
Di dalam kehidupan bermasyarakat di negeri ini, kita ditantang untuk benar-benar menghindari politisasi agama. Jangan ada pengaruh politik masuk di dalamnya, juga jangan pernah gaya hidup beriman memberlakukan cara berpolitik yang cenderung memecah belah.
Tantangan lain yang dapat ditandai dari peristiwa siasat yang dimainkan oleh Yudas ialah kemunafikan. Siasatnya ialah memeluk Yesus, mencium-Nya, lalu mengirim pesan kepada para algojo dan orang-orang Yahudi untuk menangkap Yesus. Betapa ini merupakan cara-cara kemunafikan oleh siapa pun di antara kita yang menjual teman, saudara, kerabat, tetangga, kampung halaman, agama, bangsa dan tanah air sendiri.
Motivasi yang senantiasa sangat duniawi itu gampang membuat seseorang menyangkal yang seharusnya ia lindungi dan hormati. Tantangan-tantangan ini harus kita lawan dan diatasi.
“Ya, Yesus Kristus, terangilah kami selalu untuk menghindari sikap Yudas di dalam diri kami sehingga kami dapat hidup suci seperti diri-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

