“Di tengah pengkhianatan, Yesus tetap memilih untuk mengasihi. Dia tetap memberikan diri-Nya kepada kita.”
Allah yang Maha Rahim, di ruang perjamuan itu Yesus mengtahui yang akan mengkhianati-Nya, tapi tetap memilih untuk mengasihi. Ia memecah-mecahkan roti, mengedarkan piala, dan menyerahkan diri-Nya, bahkan kepada mereka yang akan meninggalkan-Nya.
Tuhan, aku melihat diriku di sana. Aku ingin berkata, bahwa aku tidak akan pernah mengkhianati-Mu, tapi jujur aku tahu betapa rapuhnya hatiku. Karena sering memilih kenyamanan daripada kebenaran, diam demi rasa aman, ketika seharusnya setia, dan menyebut Engkau adalah Guru tanpa sungguh menjadikan Engkau Tuhan dalam hidupku.
Engkau tidak menjauh dariku, justru datang lebih dekat. Engkau memberi aku: Tubuh dan Darah, Jiwa dan keallahan-Mu, bukan karena aku setia, melainkan agar aku dimampukan untuk setia.
Bapa, bukalah telingaku seperti hamba-Mu: agar aku mendengar dan tidak memberontak. Saat aku menghadapi penolakan atau ketakutan, ingatkan aku, bahwa Engkaulah penolongku, dan aku tidak akan dipermalukan.
Dalam perjalanan Pekan Suci ini, bersama sebagai Gereja-Mu, teguhkan kami dalam Ekaristi. Ajarlah kami mengasihi sampai akhir: mengampuni sebelum disakiti, dan tetap setia walau harus berkorban.
Yesus, kami memilih Engkau kembali. Dalam kelemahan, aku tetap milik-Mu; kuatkan kami yang berdoa ini, untuk mengasihi-Mu sampai akhir.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

