Kalimat dalam tema ini cukup mewakili perasaan yang kita alami atas peristiwa sedih dan mengecewakan dalam hidup ini. Satu contohnya, ketika akhir dari pekerjaan, perjuangan, kerinduan, dan pengharapan ialah kegagalan belaka. Hal itu dipandang sia-sia dan tidak bermakna. Atau yang diinginkan ialah suatu kemajuan dan perkembangan, tapi justru yang didapat itu adalah kemunduran, bahkan keterpurukan.
Yesus Kristus, meski sebagai Tuhan dan Putra Allah, adalah manusia yang sama seperti kita. Di dalam perjamuan Paskah bersama para Rasul-Nya menjelang hukuman mati yang dijatuhkan kepada-Nya, keadaan jiwa Yesus dipenuhi keharuan yang tidak terbendung. Ia merasakan sungguh berada di ambang maut, tapi hal itu tidak dihiraukan-Nya.
Maut di depan mata sudah Dia ketahui dan sampaikan berulang kali. Keharuan-Nya bukan karena ia dekat dengan maut. Ia jadi haru atau sedih bukan karena tidak lama lagi bakal meninggalkan kawanan orang-orang pilihan-Nya. Begitu banyak orang yang bersimpati dan menaruh imannya kepada Tuhan melalui karya-karya Yesus tentu akan merasa kehilangan. Melainkan hal ini sudah sering disampaikan kepada mereka, jadi ini bukan alasan bagi keharuan Yesus.
Keharuan Yesus Kristus tidak terbendung dan Ia berterus terang tentang hal ini kepada para Rasul yang sangat dikasihi-Nya. Ada satu hal yang jadi sebabnya, yaitu menjelang perpisahan dengan mereka tampaknya tanda kegagalan di dalam tubuh komunitas pengikut Kristus itu. Dua orang kepercayaan Yesus yang mestinya diandalkan sebagai penopang komunitas terlanjur menunjukkan langkah mundur.
Yudas Iskariot sebagai bendahara bakal jadi perusak bagi komunitas itu. Ia seorang yang penuh ambisi untuk memuaskan nafsu duniawi dengan orientasi hidup yang materialistis. Uang dan harta jadi pegangan hidupnya, yang akhirnya melalui kegilaan itu ia berhasil mendapatkan sejumlah kecil uang setelah menjual Yesus Kristus ke tangan para musuh-Nya. Sikap materialistis dan duniawi ini jelas akan merusak dan menghancurkan komunitas hidup beriman.
Petrus sebagai Rasul pertama tampak kurang bijaksana dalam berbicara dan bertindak. Ia ingin bereaksi cepat dan mau segera jadi pembawa solusi, tapi nyatanya iman dan pemahamannya kurang mendalam. Keluarga dan komunitas persekutuan baik religius maupun sekuler harus menghindari sikap koruptif dan materialistis seperti Yudas Iskariot. Sikap tidak bijaksana dalam berpikir dan bertindak seperti Petrus juga harus dihilangkan. Kita diajarkan untuk mengikuti Kristus sambil terus membaharui diri kita untuk jadi sama seperti Dia.
“Ya, Tuhan yang Mahakuasa, semoga kami tetap teguh dalam iman kepada-Mu dan jadi saksi-saksi kebenaran-Mu di tengah dunia yang sangat rapuh ini. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

