Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Ajaran adat budaya ada hukum adat, ada juga hukum Agama dan Hukum Negara. Adanya hukum diandalkan untuk mengatur hak dan kewajiban setiap pribadi dalam kehidupan bersama, relasi dengan alam dan Sang Pencipta. Secara kodrati, semua manusia merindukan keadilan. Ada jaminan atas hak dasarnya, hak asasinya sebagai manusia. Maka ada pengadilan adat budaya, pengadilan agama dan pengadilan negara, jika terjadi masalah yang merugikan hak azasi pribadi atau kelompok dan lembaga.
Namun, dalam fakta kehidupan, baik di lingkungan komunitas adat budaya, dalam agama maupun kehidupan bernegara, tidak selalu terjamin keadilan hukum. Ada banyak faktor yang bisa membuat harapan keadilan sedemikian sulit, dan sering mengecewakan. Lalu, refleksi perjuangan penegakkan hukum dan menjamin keadilan itu, saya tuliskan dalam sajak:
Seperti Mengejar Bayangan Angin
Dengan nama Allah
Tuhan Yang Maha Esa
Sumpah jabatan telah diucapkan
telapak di atas Kitab Suci
Lalu
langkah berlari mengejar angin
Hati sanubari memacu pikiran
dari rumah ke tempat kerja
dari mata ke halaman aturan
jemari menulis kata dan angka
“Memang lidah tak bertulang
tak terbatas kata-kata
Tinggi gunung seribu janji
Lain di bibir lain di hati”
Pada ruang yang istimewa
ada lambang timbangan emas
Pada halaman kertas hukum
ada kata tertulis berwibawa
“Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”
Para penegak hukum terhormat
terus membaca dan menulis
pasal ayat aturan hukum
disaksikan lambang sakral timbangan
dilihat Tuhan Yang Maha Esa
Dan
rakyat para pencari keadilan
berlari di padang ilalang
karena tidak mempunyai uang
“saksikan elang memangsa belalang
dengarkan anjing terus menggonggong
Kendaraan mewah lalu lalang
Jabatan diperebutkan silih berganti”
Udara dihirup untuk nafas
maka semua orang alami
karena dibutuhkan untuk hidup
Angin berhembus dan bertiup
Sejuk saat sepoi berhembus
Menakutkan saat puting beliung
Menggentarkan ketika menjelma badai
Mungkin keadilan
seperti udara
sungguh ada dan dibutuhkan
tetapi
sering tak mampu tangkap
karena berhembus seperti angin
karena ganas seperti badai
karena seram laksana cyclon
yang menyerang tak terduga
“Keadilan itu ucapan bibir
Keadilan itu tulisan huruf-huruf
Keadilan itu kata-kata”
Aturan dan hukum ada
Kantor Pengadilan juga didirikan
Para Penegak Hukum ada
Para pencari keadilan ada
Semua ada bersama-sama
membaca tulisan kata yang sama
Keadilan Hukum
berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa
Namun,
arti keadilan memang tak sama
bagi setiap pribadi manusia
karena berbagai macam alasan
Entah soal kemampuan membaca
Entah karena berbeda jabatan
Entah karena soal kaya miskin
Entah berbeda pangkat kedudukan
Entah soal agama kepercayaan
Entah karena jaringan pendukung
Mungkin soal siapa Tuhan-nya
“Keadilan hukumโฆ
seperti mengejar bayangan angin”

