Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sembilan puluh persen kegagalan datang dari orang-orang yang memiliki kebiasaan untuk membuat alasan.”
(George Washington)
Hukum Kehidupan
‘Mulutlah,’ satu-satunya anatomi tubuh manusia yang justru akan kian kuat, lantang, dan bawel di kala seorang manusia itu jadi kian uzur. Karena, bukankah mata, telinga, rambut, gigi, kaki, dan tangan justru akan kian melemah kala batang usia datang merayapi hidup ini?
Cara Cerdas Seorang Raja
Seorang Raja cerdas yang justru merasa kian kewalahan, karena para Menterinya tidak mampu lagi untuk menjaga kekompakan dan keutuhan dalam pemerintahannya. Karena setiap Menteri cenderung untuk berdebat dan merasa, bahwa kuasanyalah yang paling penting serta utama. Mereka cenderung untuk mempertahankan, bahwa tugasnyalah yang paling utama dan terpenting. Dalam hal ini, mereka justru tidak mampu untuk berpikir secara utuh (holistik), tapi cenderung untuk mementingkan bagian demi bagian (parsial).
Dalam sebuah festival tahunan yang diadakan di sebuah lapangan terbuka. Apa yang dilakukan oleh Raja? Di hadapan dewan Menteri dan masyarakat umum, Raja menggiring seekor gajah ke tengah lapangan.
Raja lalu menghadirkan ‘ketujuh orang Buta’ dan masing-masing mereka diminta untuk meraba ketujuh bagian tubuh dari gajah itu.
Si Buta pertama, diminta untuk meraba ‘belalai gajah’ dan memberitahunya, bahwa itulah seekor gajah.
Si Buta kedua, diminta untuk meraba ‘gading gajah’.
Si Buta ketiga, diminta untuk meraba ‘kuping gajah’.
Si Buta keempat, diminta untuk meraba ‘kepala gajah’.
Si Buta kelima, diminta untuk meraba ‘badan gajah’.
Si Buta keenam, diminta untuk meraba ‘kaki gajah’.
Si Buta ketujuh, diminta untuk meraba ‘ekor gajah’.
Sang Raja meminta pada mereka masing-masing untuk menjelaskan dengan lantang, seperti apakah seekor gajah itu.
Beginilah kesaksian mereka!
Kata si Buta pertama, menurut saya, seekor gajah itu adalah ‘sejenis ular.’ He, goblok seru si Buta kedua. “Menurut saya, seekor gajah itu, “terlalu keras untuk disamakan dengan seekor ular. Tapi, ia seperi bajak pak tani.”
“Jangan melucu kau,” cemooh si Buta ketiga. “Seekor gajah itu, seperti daun kipas besar.”
“Kau sungguh idiot kelas kakap,” olok di Buta keempat. “Seekor gajah itu, seperti sebuah gentong air besar.”
“Mustahil itu,” cibir si Buta kelima. “Seekor gajah itu, seperti batu karang raksasa.”
“Parah kau teman,” teriak si Buta keenam. “Seekor gajah itu, seperti sebatang pohon.”
“Dasar kalian semua idiot kelas kakap,” olok si Buta ketujuh. “Aku akan memberi tahu kalian yang sebenarnya. Seekor gajah itu, semacam pecut pengusir lalat.”
Lalu apa yang terjadi? Mereka bertengkar demi mempertahankan argumen masing-masing. Keadaan kian kacau dan mereka saling melontarkan argumen, tapi tidak melihat, siapakah lawan bertengkarnya itu.
Ketika suasana kian riuh dan tidak dapat dikendalikan, berserulah Raja dengan lantang, “Inilah deskripsi dari kondisi riil yang terjadi di kalangan para Menteri dalam pemerintahan saya.” Selanjutnya dikatakan Raja, bahwa “Kekacauan itu justru lahir, tatkala setiap Menteri merasa dirinya dan bagiannyalah yang paling utama serta terpenting!”
Suasana terdiam seketika dan tampak para Menteri itu tertunduk malu, karena koreksi tak langsung yang disampaikan oleh Raja yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
(Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya).
Refleksi
Dari balik kisah nan unik ini, marilah kita sejenak terpekur!
“Keangkuhan itu, sering kali akan memicu perbantahan dan konflik yang sebenarnya tidak perlu ada, jika mereka mau untuk bersikap saling terbuka dan mendengarkan.”
Dalam konteks ini, kita sungguh membutuhkan sosok-sosok pribadi yang bersikap rendah hati!
“Amicus Plato, sed Magis Amica Veritas.”
“Aku Mencintai Plato Sahabatku, tapi Aku lebih Mencintai Kebenaran.”
(Filsuf Aristoteles)
Kediri, 31 Maret 2026

