“Apakah yang dimaksud dengan kasih yang tidak bertepi?”
Ketika Yesus bersantap bersama teman-teman dekat-Nya, seorang wanita bernama Maria, menurut Injil Yohanes, melakukan sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh cinta. Ia mengambil harta paling berharga yang dimiliki dan menggunakan itu hanya untuk Yesus Kristus.
Perhatiannya tidak memakai perhitungan. Cintanya tiada bertepi. Tindakannya itu didasari cinta dan terima kasihnya kepada Yesus yang telah melimpahkan kasih yang juga tiada bertepi kepadanya dan keluarganya. Tuhan berbelas kasih, memberkatinya, dan memberi pemahaman yang sangat bermakna tentang pengorbanan dan kasih yang sejati diberikan dengan kemauan yang baik dan murni.
Ia melakukan sebuah tindakan kasih yang mestinya tidak boleh dilakukan seorang wanita Yahudi di muka umum. Ia melepaskan rambut panjangnya terurai. Ia membasahi Yesus dengan air matanya. Menurut aturan adat seorang wanita pada hari perkawinannya harus mengikat dan menutup rambutnya. Sementara itu bagi yang telah menikah, melepaskan rambut terurai di muka umum merupakan tanda sangat tidak sopan.
Tindakan Maria ini tentu saja menjengkelkan semua yang ada di sekelilingnya, kecuali Yesus. Tapi ia tidak peduli dengan reaksi orang-orang itu. Ia hanya ingin menyatakan kasihnya kepada Tuhan. Dalam kerendahannya ia menunduk untuk meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambut panjangnya. Tindakan Maria ini meninggalkan pesan kepada kita, yaitu bagaimana dan sudah berapa kali kita menunjukkan wujud terima kasih dan cinta terbesar kepada Tuhan?
Karena minyak wangi itu seluruh isi rumah penuh dengan keharuman (Yoh 12: 3). Keharuman dan keindahan mengisi seluruh rumah, baik secara fisik maupun secara rohani. Hanya kasih tiada bertepi yang dapat melakukan ini. Hal ini cukup untuk menggambarkan, bahwa seorang manusia seperti Maria dapat berbuat kasih yang sama dengan kasih Tuhan Yesus Kristus. Tidak mustahil bagi siapa pun dari kita melakukan hal sama seperti yang dilakukan Maria.
Yesus Kristus senantiasa memberikan contoh untuk berbagi kasih yang tidak bertepi. Di dalam Pekan Suci ini kita mengenangkan perbuatan kasih-Nya. Kita diberi gambaran sosok Yesus hamba Allah yang rela untuk menderita bagaikan buluh yang patah terkulai atau sumbu yang pudar nyalanya, tapi ia sendiri tidak akan patah terkulai dan jadi pudar. Ia tetap akan menegakkan hukum di bumi ini. Cinta-Nya bertahan untuk selama-lamanya. Yesus tidak akan hilang atau berhenti dengan menderita dan wafat-Nya. Ia justru melewati semua ini dan hidup terus di dalam kita para pengikut-Nya.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, ajarilah dan kuatkanlah kami untuk selalu dapat bertahan, bila kesulitan dan penderitaan itu menghadang kami, bahkan mengancam hidup kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

