‘Stabat Mater’ adalah gambaran paling murni tentang kesetiaan seorang wanita di titik nadir kesedihan. Misal seorang istri yang tetap setia ‘melani’ suaminya yang nyaris tanpa harapan (sembuh atau tidak berdaya). Dalam kontek kesetiaan ‘melani’, bisa dipadankan dengan suami bagi istrinya
Istilah ini berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Sang Ibu Berdiri.” Secara historis dan spiritual, ini merujuk pada Maria yang tetap tegap berdiri di kaki salib saat melihat Putranya (bagi banyak orang, juga simbol pengabdian tidak terbatas) menderita.
Secara faktual, kita melihat banyak saksi hidup dewasa ini, banyak istri dan (suami) yang jadi ‘Stabat Mater’ (setia berdiri tegak) untuk suaminya atau istrinya. Misalnya, Ibu muda (kampus) untuk suaminya, kakak saya sendiri dalam usianya yang tua untuk istrinya, adik saya untuk istrinya sampai akhir hayat, tetangga saya sendiri untuk istrinya yang sudah bertahun stroke tidak berdaya, mantan Prodiakon yang dilayani oleh istrinya dengan jiwa ‘Stabat Mater’. Mereka itu seperti Bunda Maria yang tegak kokoh untuk Putera-Nya.
Kita ingat kesetiaan itu sambil merenungkan detik-detik sengsara Sang Penyelamat.
Berkah Dalem.
Jlitheng

