Membaca kisah sengsara yang panjang pada Minggu Palma: Mengenangkan sengsara Tuhan, kita disuguhi sebuah drama yang bukan semata tentang kisah penangkapan Yesus, sengsara dan kematian-Nya, melainkan juga tentang drama kehidupan kita manusia.
Dalam pentas drama penyaliban Yesus, kita bisa bertanya, “seperti siapakah aku ini, atau karakter apa yang aku mainkan dulu, sekarang, dan di waktu yang akan datang?”
- Yudas Iskariot: Apakah aku seperti Yudas Iskariot, yang hanya karena uang, lalu menciderai persahabatan dengan Yesus?
- Petrus: Apakah aku ini seperti Petrus, yang hanya berani di mulut, ketika datang tantangan dan ancaman, lalu menyangkal orang yang mencintainya?
- Kayafas dan Pilatus: Apakah aku ini seperti Kayafas dan Pilatus yang demi gengsi dan jabatan, lalu salah menggunakannya sehingga menyebabkan kerugian, menjatuhkan hukuman yang tidak adil, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang?
- Orang-orang Yahudi: Apakah aku ini seperti orang-orang Yahudi, yang hanya karena iri, benci, cemburu, atau hanya karena ikut-ikutan, lalu menuduh, memfitnah dan mengolok-olok orang lain tanpa rasa kemanusiaan?
- Algojo: Apakah aku ini seperti para algojo, karena tugas yang diperintahkan atau dibayar, lalu menghujat, menyiksa, bahkan menghabisi nyawa orang lain?
- Yusuf, Simon, dan Veronika: Apakah aku ini seperti Yusuf dari Arimatea, Simon dari Kirene, Veronika, yang tanpa takut rela meringankan beban hidup sesama yang menderita?
- Bunda Maria: … akhirnya, apakah aku ini seperti Bunda Maria yang tabah, setia penuh iman menemani Yesus, Putra-Nya dalam jalan sengsara sampai kematian?
Pelajaran penting bagi kita di Minggu Sengsara ini adalah:
1) Ingatlah, bahwa ada seorang pribadi yang pernah mengatakan, bahwa Aku mencintaimu, dan Ia telah membuktikan cinta-Nya kepadamu dengan sengsara dan kematian-Nya. Dialah Yesus Juru Selamatmu;
2) Dulu masing-masing pelaku drama penyaliban hanya memainkan satu peran, namun saat ini, dalam kehidupan, engkau dan aku sering memainkan semua peran itu baik sebagai pengkhianat, penakut sehingga tidak berani jujur, menyalagunakan jabatan, memfitnah dan mengolok-olok, bahkan menciderai dan membunuh sesama;
Masih ada kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan Paskah, yaitu dengan bertobat dan berbuat baik.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

