Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ada garam di antara kita”
(Ungkapan Arab)
Ungkapan dengan ‘Kata Garam’
‘Tentang Garam’, demikian judul tulisan reflektif ini. Selain itu, ada juga sejumlah ungkapan atau peri bahasa yang menggunakan kata ‘garam’:
- (1) ‘Makan asam garam’, yang bermakna ‘pengalaman hidup.’
- (2) ‘Menabur garam di atas luka’, yang bermakna ‘menambah kesedihan atau kesulitan hidup’.
- (3) ‘Garam di atas meja, garam di atas kepala,’ bermakna ‘sangat bersyukur atas nikmat yang diperoleh’.
Di zaman dulu, ‘garam’ memiliki ‘nilai’ dalam kehidupan manusia dan budayanya. Bahkan di dalam Alkitab, kita mengenal ungkapan, ‘perjanjian garam,’ yakni suatu perjanjian yang dibuat dan selalu disegel oleh garam:
“Segala persembahan khusus, yakni persembahan kudus yang dipersembahkan orang Israel kepada Tuhan, Aku berikan kepadamu dan kepada anak-anakmu laki-laki dan perempuan bersama-sama dengan engkau; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya; itulah suatu perjanjian ‘garam’ untuk selama-lamanya di hadapan Tuhan bagimu serta bagi keturunanmu”
(Bilangan 18: 19).
Garam itu sebagai simbol tanda ‘ikatan kesetiaan antar pihak yang mengadakan suatu perjanjian’. Maka, di dalam Bahasa Arab dikenal ungkapan, ‘ada garam di antara kita’.
Bahkan karena saking pentingnya nilai rasa garam, jika garam itu sudah kehilangan nilai keasinannya, disebut ‘ampas bumi’, karena telah kehilangan rasa sodium chloride. Dari situlah, lahirlah sebuah ungkapan dari bangsa Persia, ‘tidak setia kepada garam, atau sikap tidak tahu berterima kasih’.
Filosofi tentang Garam
Dalam masyarakat dari berbagai budaya dan bangsa, ternyata ‘garam’ memiliki filosofi yang sangat bermakna dan mendalam di dalam kehidupan.
Antara lain,
- ‘Garam’ sebagai simbol kehidupan dan kematian. Hal ini dimaksudkan, bahwa garam itu dapat mengawetkan makanan. Itulah sebabnya, garam sebagai simbol ‘kehidupan’. Sebaliknya, garam yang berlebihan pun dapat merusak makanan. Itulah fungsi garam sebagai simbol kematian.
- ‘Garam’ sebagai simbol kebijaksanaan, karena garam mampu melezatkan makanan. Tapi sebaliknya, jika terlampau banyak menggunakan garam. Penggunaan garam dengan takaran yang pas, itulah fungsi garam sebagai simbol kebijaksanaan.
Refleksi
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu jadi tawar, dengan apakah ia diasinkan lagi? Tidak ada lagi gunanya selain untuk dibuang dan diinjak orang.”
(Matius 5: 13)
Kediri, 29 Maret 2026

