“Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai” (Yoh 11: 51b-52).
Sebuah desa terpisah, setelah jembatan penghubungnya runtuh akibat banjir besar, dan akibatnya kedua warga desa itu tidak dapat saling menjangkau. Di tengah keterpisahan itu, seorang relawan dengan kerelaan hati membangun jembatan sederhana. Ia bekerja dalam kelelahan dan menghadapi risiko demi kepentingan bersama. Pengorbanannya memungkinkan seluruh warga kembali terhubung dan menumbuhkan harapan baru.
Demikianlah gambaran tentang Yesus. Melalui wafat-Nya di kayu salib, Ia menyerahkan diri-Nya bukan untuk satu bangsa atau kelompok tertentu, melainkan untuk mengumpulkan dan mempersatukan seluruh anak-anak Allah yang tercerai-berai. Salib Kristus jadi jembatan kasih yang memulihkan relasi manusia dengan Allah dan sesamanya.
Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh perbedaan pandangan, egoisme, dan kepentingan pribadi, kita diundang untuk menempuh jalan pengorbanan dan kasih. Setiap kali kita rela mengalah demi damai dalam keluarga, berusaha memahami sesama yang berbeda pendapat, dan memilih mengampuni daripada membalas luka, kita turut ambil bagian dalam karya Kristus yang mempersatukan.
Sr. M. Yvonne, P. Karm
Sabtu, 28 Maret 2026
Yeh 37: 21-28 MT Yer 31: 10-13 Yoh 11: 45-56
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

