Penolakan orang Yahudi terhadap Yesus mencapai puncaknya, ketika Yesus berbicara tentang domba-domba-Nya dan menyatakan kesatuan-Nya dengan Bapa. Yesus menggambarkan hubungan-Nya dengan para pengikut-Nya seperti Gembala dengan domba. Ia berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yoh. 10: 27). Tapi kepada orang-orang Yahudi yang menolak-Nya, Ia berkata, “Kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku” (Yoh. 10: 26). Iman itu bukan hanya soal pengetahuan, melainkan soal relasi dan keterbukaan hati.
Pernyataan Yesus ini adalah deklarasi tentang kesatuan dengan Allah Bapa. Bukan sekadar kesatuan kehendak, melainkan kesatuan hakikat. Reaksi orang Yahudi sangat keras. Mereka mengambil batu untuk melempari Dia, karena mereka menganggap Dia menghujat, sebab “Engkau, hanya seorang manusia, menjadikan diri-Mu Allah” (Yoh. 10: 33).
Penolakan mereka bukan karena kurangnya bukti. Mereka telah melihat, bagaimana Yesus melakukan banyak pekerjaan baik dan mukjizat. Karena ketegaran hati dan ketakutan akan kehilangan otoritas keagamaan itu yang membuat mereka tidak bisa menerima, bahwa Mesias datang dalam wujud yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.
“Ya, Tuhan, mampukanlah kami menjadi domba-domba yang setia dan mengenal Engkau, Sang Gembala sejati. Amin.”
Ziarah Batin

