Perdebatan dan fitnah tentang identitas Yesus Kristus masih berlanjut. Hari ini penekanannya ialah pada sosok Abraham. Kitab Kejadian menampilkan Abraham yang diartikan sebagai Bapak bagi sejumlah bangsa besar di bumi ini, mempunyai dua karakteristiknya. Sosok Abraham digambarkan sebagai seorang pilihan Allah untuk mendiami wilayah yang asing baginya yang dikuasai bersama segala keturunannya. Ia diberkati untuk memiliki banyak sekali keturunan.
Ciri lain pada Abraham ialah perjanjian Allah atasnya yang harus dijamin dengan iman dan ketaatan kepada-Nya. Dasar iman ini tidak hanya membuat dia sebagai Bapak iman bagi banyak orang, tapi juga menunjukkan tujuannya dalam persekutuan yang bahagia bersama Tuhan selama-lamanya. Ini adalah gambaran Abraham yang spiritual. Karakteristik yang pertama menggambarkan sisi kefanaannya sebagai manusia yang mengalami kematian di dunia. Sedangkan karakteristik yang kedua menggambarkannya sebagai pilihan Allah yang mengalami hidup abadi atau selama-lamanya.
Dua sisi profil Abraham ini dijelaskan secara lengkap oleh Yesus kepada para lawannya. Ditegaskan-Nya kepada mereka, bahwa Abraham yang merupakan manusia dunia ini setelah genap usianya untuk mati, ia tunduk kepada panggilan alam ini. Sampai dengan batas pemahaman di sini, para lawan itu sanggup untuk mengerti dan percaya akan Abraham yang fana. Demikian juga dengan para Nabi, kematian pada dasarnya merupakan bagian dari kefanaan mereka.
Mata mereka sama sekali dikaburkan dan hati mereka sungguh tertutup, sehingga mereka tidak bisa menangkap, bahwa Yesus Kristus adalah kenyataan janji Allah kepada Abraham dan penubuatan para Nabi. Sebenarnya Yesus sedang menjelaskan, karena Abraham mempunyai aspek spiritual, ia sudah melihat Yesus Kristus, Putra Allah. Abraham melihat dan bersukacita, sebab janji Allah kepadanya terwujud dalam diri Yesus Kristus. Aspek spiritual inilah yang tidak dapat ditangkap oleh kaum Farisi dan para ahli Taurat.
Yesus sedang mengajarkan pada kita tentang kekuatan rohani yang merupakan karunia Roh Allah kepada setiap orang yang mengikuti-Nya. Dengan karunia ini, kita diberi jaminan untuk menikmati hidup ini melalui bagaimana kita melihat kemuliaan Allah yang hadir di dalam diri sendiri, sesama, dan lingkungan sekitar. Pengalaman akan kemuliaan Allah itu jadi dasar bagi kita untuk bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan. Yang memperkuat sukacita ini ialah aspek spiritual dari segala sesuatu di dalam hidup ini, karena di situ Tuhan sungguh hadir.
“Ya, Allah yang Mahamurah, semoga kami selalu peka akan kemuliaan-Mu yang hadir di dalam segala sesuatu, khususnya di dalam hidup kami sebagai pribadi dan bersama. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

