1.
Tanah Tumpah Darah
Tanya menghadirkan jiwa raga
entah dari orangtua yang mana
entah sebagai pria atau wanita
entah di mana komunitas adat budayanya
entah kapan waktunya dan hidup berapa lama
Aku, engkau dan dia
semua terlahir tanpa meminta
hidup dalam derap kelana tanya
Pulang pun masih membawa tanya
yang diwariskan tanah tumpah darah
Di mana langit dijunjung
setiap kita diam merenung
Di mana tanah dipijak
setiap pribadi diajak bijak
Merenung dan bijak karena tanya
Tanah tumpah darah pasti berbeda
dengan tempat di mana berkelana
merajut asa dan menenun makna
Ketika udara memandu langkah
dan desir darah melintas sekat fakta
Energi tanya berkreasi menggores wajah rindu damba
2.
Parade Kota-kota
Ketika coba menghitung jumlah kota
mungkin ada seribu atau sejuta
Ada kota-kota tua dan hilang musnah
Ada kota-kota baru bertambah
Semuanya kreasi generasi manusia
dan tetap ada di bumi kita
Dinamika kelana mencari jawaban seribu tanya
Adakah kota di pikiran kita
dan apakah makna kota-kota
Mungkinkah itu hanya kotak dan kata
yang tercipta membedakan kampung udik dan desa
yang melukis lapar raga dan dahaga jiwa
Kita terus mengembara mencari makna
dengan jiwa raga yang miskin papa
Pikiran berkelana lintasi kota dunia
mencari kota-kota di dunia maya
sesuai selera dan rindu damba
Adakah kota-kota di planet angkasa
Di manakah kota Surga dan kota Neraka
agar bisa puaskan rindu damba
Apakah hanya tanya atau fakta
Kita berlomba menciptakan kota
dengan aneka kreasi pikiran kita
meskipun telapak menginjak debu tanah

