“Dipasang, bisa sebagai penunjuk arah, pengenal, atau profesi itu biasa. Tapi papan nama digunakan sebagai identitas iman, karena kita bangga jadi murid-Nya.”
Papan nama itu terpasang jelas di tembok sebelah kiri pintu rumah saya: Yuventius Mas Redjo, Ketua RT O13 (Bolong-Ji-Lu).
Bangga, karena saya ini minoritas, tapi dipercaya sebagai Ketua RT. Nama baptis itu membuat saya termotivasi untuk melayani warga dengan baik, bertanggung jawab, dan ikhlas.
Tantangan pertama dari pelayanan saya adalah, ketika pengembang komplek perumahan itu hendak melanjutkan pembangunan tujuh kavling rumah di pojok, yang sudah lama dibiarkan mangkrak.
“Pucuk dicinta ulam pun tiba.”
Ketika ngobrol dengan pengurus RT lain itu mengemuka usulan untuk menekan pengembang agar segera merealisasi janji untuk memperbaiki jalan utama komplek yang rusak. Jika pengembang tidak menuruti, warga komplek sepakat menolak pembangunan kavling rumah itu agar kontraktor mencari jalan lain. Warga komplek muak dengan janji pengembang yang sekadar ‘omon-omon’.
Oleh para pengurus RT, saya didapuk untuk menemui kontraktor pembangunan kavling itu. Mereka sepakat mendukung saya di atas kertas bermaterai berisi tuntutan warga komplek, minta kompensasi perbaikan jalan. Mereka berhati-hati agar pengalaman buruk itu tidak terulang lagi. Mereka takut. Jika pembangunan kavling rumah itu selesai, ditinggal pergi kontraktor yang tidak bertanggung jawab, dan jalan komplek makin rusak.
Karena usulan minta kompensasi perbaikan jalan itu, saya didatangi dan ditanyai oleh aparat. Tenang dan tidak grogi, saya menjelaskan kronologinya, termasuk janji kosong pengembang. Kontraktor itu hendak menyumbang sejumlah uang yang diminta warga atau memperbaiki jalan komplek.
Saya juga diinterogasi di kelurahan dengan pertanyaan yang tidak jauh berbeda dengan aparat. Saya tetap fokus pada tuntutan warga komplek untuk minta kompensasi perbaikan jalanan komplek. Jika uang itu tidak mencukupi, warga juga sepakat untuk patungan guna menutup kekurangannya.
Puji Tuhan, perbaikan jalan komplek lancar tiada hambatan yang berarti, dan semua warganya bersukacita.
Mas Redjo

