Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu Malaikat itu meninggalkan dia (Luk 1: 38).
Kita merayakan Hari Raya Kabar Sukacita, saat Malaikat Tuhan datang kepada Maria untuk menyampaikan warta kelahiran Yesus, Putra Allah. Maria tidak sepenuhnya memahami rencana Allah. Ia bisa saja menolak, karena banyak alasan, tapi ia memilih untuk percaya dan berserah kepada Allah. Lewat sikap Maria ini, kita diajak belajar, bahwa percaya kepada Allah harus disertai dengan penyerahan diri yang total.
Kehidupan kita tidak selalu mudah. Kadang kita menghadapi pergumulan, sakit, luka hati yang tidak kunjung sembuh, masalah keluarga, hubungan yang tidak harmonis, bahkan kehilangan orang yang dikasihi. Tapi, seperti Maria, kita diajak untuk berkata, “Tuhan, saya percaya Engkau selalu ada bersama saya.” Kepercayaan itu memberi kita ketenangan dan kekuatan menghadapi setiap tantangan hidup.
Ada kisah sepasang suami-istri yang dianugerahi buah hati setelah belasan tahun menanti. Sesuatu yang tampak mustahil jadi kenyataan. Hal ini mengingatkan kita, bahwa jika Allah menghendaki sesuatu itu terjadi, tidak ada kuasa yang dapat menghalanginya.
Marilah kita mohon rahmat Tuhan, agar kita makin mampu menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya.
Rm. Eusebius, CSE
Rabu, 25 Maret 2026
Yes 7: 10-14; 8: 10 Mzm 40: 7-11 Ibr 10: 4-10; Luk 1: 26-38
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

