Tiang kayu palang atau lazimnya disebut salib, sebelum jadi salib Yesus adalah sebuah tanda kehinaan luar biasa. Pribadi manusia yang dihukum di salib ialah seorang penjahat yang paling rendah martabatnya. Tapi ketika mulai dengan Yesus Kristus yang dihukum berat dengan targetnya ialah kematian-Nya di salib, makna salib itu berubah. Bagi para pengikut Kristus, salib adalah tanda kemuliaan. Di samping itu, dalam pemahaman rohani salib dipandang sebagai tanda kematian akan dosa, kejahatan, dan kelemahan.
Salib sebagai sebuah tiang kemuliaan untuk Yesus Kristus memiliki makna keselamatan. Pada zaman Musa dan bangsa Israel mengembara di padang gurun, salib belum mereka kenal. Tiang palang itu baru jadi populer, ketika bangsa penjajah Romawi menjadikannya sebagai sarana untuk menghukum para penjahat Kerajaan. Tapi sebagai tiang yang tertanam di tanah dan bermakna keselamatan, fungsi itu sudah dikenal oleh Musa dan bangsa terpilih. Menurut kitab Bilangan bab 21, ular tembaga yang ditaruh pada tiang jadi tujuan pandangan orang-orang yang dipagut ular liar, dan mereka jadi sembuh. Mereka tidak mati atau binasa, karena ular, tapi selamat dan pulih kembali.
Sejak kayu palang ditaruh di pundak Yesus dalam kisah sengsara-Nya dan khususnya saat Ia bergantung hingga wafat di atasnya, makna keselamatan yang ditampilkan oleh salib disempurnakan jadi kemuliaan. Keselamatan itu sebagai sebuah pembebasan dari ikatan-ikatan yang menyiksa atau yang membawa derita. Dari keselamatan, seseorang dinaikkan ke tempat yang tinggi, yaitu tempat Yesus Kristus bersama Bapa dan Roh Kudus berada. Di atas salib itu tubuh Yesus yang mati bergantung, tapi Roh-Nya bangkit dengan mulia, seperti yang dikatakan-Nya sendiri di dalam Injil: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia.”
Kita sedang menuju pada peringatan sengsara Yesus Kristus dari taman Getsemani ke bukit Golgota. Hal ini mengingatkan kita akan pengalaman penderitaan kita masing-masing atau orang lain di sekeliling kita. Yesus menderita sangat hebat. Ia bergantung pada salib, yang mengingatkan kita akan hebat dan parahnya penderitaan yang pernah kita alami. Roh dan jiwa kita tidak mesti terbelenggu oleh tubuh yang didera beratnya salib penderitaan. Tubuh kita memang akhirnya mati dan hancur, tapi roh dan jiwa kita akan bertahan untuk melewati keselamatan dan sampai kepada kemuliaan.
Mengikuti Yesus Kristus berarti kita harus melewati penderitaan tubuh ini, karena kita sudah dijanjikan hasil terbaiknya itu yang akan menyusul.
“Ya, Yesus yang mulia, semoga kami senantiasa gembira dan bersukacita dengan salib yang ada pada kami masing-masing. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

