“Kita mau jadi seperti apa memandang ke masa depan. Kita memilih memandang Yesus.”
Allah yang Maharahim, kami datang dengan hati yang jujur. Kami tahu betapa mudahnya mengeluh, merasa lelah, dan jatuh dalam dosa, seperti umat-Mu di padang gurun. Sering kali kami membawa luka dan beban yang kami sembunyikan.
Engkau tidak meninggalkan kami sendirian. Tapi senantiasa mengajak kami untuk memandang ke atas… kepada Yesus.
Seperti ular tembaga diangkat di padang gurun, demikian juga Putra-Mu diangkat di kayu salib. Ketika kami memandang Dia dengan iman, sesuatu mulai berubah dalam hati kami. Mungkin tidak tampak langsung di luar, tapi di dalam. Pemulihan itu mulai terjadi. Harapan itu kembali hidup.
Yesus, Engkau tidak jauh dari pergumulan kami. Engkau masuk ke dalamnya. Engkau memikul dosa, ketakutan, dan kerapuhan kami. Di salib, kami melihat kebenaran tentang diri kami, tapi terlebih lagi, kami melihat hati-Mu: Kerahiman yang lebih besar dari dosa kami. Kasih yang lebih kuat dari kegagalan kami.
Bapa, ajar kami untuk memandang Yesus, terutama dalam Ekaristi.
Dalam kelemahan kami, tariklah kami makin dekat kepada-Mu.
Biarlah kerahiman-Mu jadi kesembuhan kami. Kasih-Mu jadi hidup kami.
“Yesus, kami percaya pada-Mu.
Angkatlah kami masuk dalam kasih Bapa. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

