“Let us be joyfull person.” -Rio, Scj
Jika kita disuruh memilih uang atau teman, kebanyakan dari kita pasti memilih uang. Karena saat kita mempunyai uang jangankan manusia, setan pun bisa mengaku teman. Dunia memang seperti itu, yang dicari itu bukan ketulusan, melainlan manfaat yang terlihat.
Bahagia itu sering seperti itu. Kita mencarinya di luar, padahal bahagia itu ada di dalam hati. Ilmu psikologi, dan stoikiesme sepakat, jika ukuran bahagia itu ada pada harta, uang, jabatan, pencapaian, dan pengakuan itu hanya ilusi sementara. Psikologi modern menyebutnya ‘hedonictreatmill’. Ketika kita terus berlari mengejar hal baru, tetap saja semua itu hampa dan kosong. Di atas langit masih ada langit.
Kebahagiaan sejati itu bukan dari hasil, melainkan dari makna. Markus Aurelius mengingatkan, “Ketenangan datang saat kita berhenti berdebat dengan kenyataan. Bahagia itu muncul saat kita menerima yang tak bisa diubah dan berfokus pada kendali diri.” Jadi bukan dunia yang perlu berubah, tapi cara kita memandang hal itu dari reaktif jadi sadar, dari menuntut jadi bersyukur.
Kebahagiaan sejati itu tenang dan sederhana; bukan heboh, melainkan penuh makna.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

