Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh 8: 11b).
Sering kali kita jadi ‘Farisi modern’: mudah menghakimi dosa orang lain, tapi jarang melihat ke dalam hati sendiri.
Yesus mengajarkan, bahwa pengampunan dimulai dari kesadaran akan kerapuhan diri. Ia tidak membela perempuan yang berdosa, tapi menyingkapkan kemunafikan para penuduh: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (ay. 7). Namun, satu per satu dari mereka pergi, hingga tersisa Yesus dan perempuan itu.
Yesus bertanya dengan penuh kasih: “Di mana penuduhmu? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Perempuan itu menjawab: “Tidak ada, Tuhan.” Yesus berkata: “Aku pun tidak menghukummu. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.”
Dosa-dosa kita telah dibayar di atas kayu salib, tapi undangan untuk bertobat dan berubah itu selalu terbuka setiap saat.
Kita diingatkan, bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan, bukan menghukum. Lepaskan batu penghakiman, terimalah pengampunan, dan mulailah hidup baru dalam terang-Nya.
Tuhan, ampunilah penghakiman kami. Sadarkanlah kami akan dosa, dan tuntunlah hati kami untuk hidup penuh kasih-Mu.
Fr. Pius A Crucis, CSE
Senin, 23 Maret 2026
Dan 13: 1-9.15-17.19-30.33-62 Mzm 23: 1-6; Yoh 8: 1-11
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

