Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Homo Proponit sed Deus Disponit”
“Manusia Merencanakan, tetapi
Tuhanlah yang Menentukan”
(Thomas a’ Kempis)
Tekad untuk Bunuh Diri
Tidak jarang kita mendengar, bahwa ada orang yang mengancam untuk mengakhiri hidupnya, karena merasa ia sudah tidak sanggup lagi didera aneka penderitaan. Semisal, sakit yang tidak kunjung sembuh, utang yang meliliti diri, nama baik yang tercemar, usaha bangkrut, anak-anak yang gagal studi, usia tua yang membebani, dan seribu satu derita lainnya.
Niat untuk Mati saja
Mari, cermatilah kisah berikut ini!
Seorang Pria tua yang terbungkuk, karena dimakan usia, sedang sibuk mengumpulkan ranting kayu. Di saat sedang tertatih-tatih, ia mulai sadar, bahwa betapa malang dan menderita dirinya.
Ia lalu melemparkan ikatan ranting kayu itu dari pundaknya dan mencampakkannya ke tanah. “Hidupku ini terlalu keras. Saya sudah tidak sanggup lagi untuk menanggungnya. Oh, sang kematian, sudilah membawaku pulang!”
Seketika itu juga, mematunglah di harapannya ‘kerangka berjubah hitam pekat.’ “Saya mendengar tadi Anda memanggil saya. Apakah ada yang bisa saya bantu?”
Si Pria tua itu tergesa dan dengan sekenanya menjawab, “Bisakah Tuan membantu saya meletakkan kembali ikatan rating kayu ini ke pundak saya?”
Aesop
(1500 Cerita Bermakna)
Pergulatan Batin Manusia secara Filosofis dan Spiritual
Adapun pergulatan batin manusia yang sering disebut sebagai sebuah ‘krisis eksistensial,’ dapat dibagi:
- Secara filosofis: adalah pergulatan antara keinginan untuk mengakhiri penderitaan dengan keinginan untuk mencari dan menemukan makna terdalam dari hidup.
- Sedangkan secara spiritual: adalah ‘saat manusia itu mau mempertanyakan kembali, apa tujuan hidupnya dan relasinya dengan sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya.
Di sisi yang lain, tradisi hidup manusia mengajarkan, bahwa penderitaan itu adalah bagian hakiki dari proses ziarah jiwa, dan bukanlah sebagai akhir dari segalanya. Jadi, dalam konteks ini, sangat dibutuhkan kearifan manusia untuk dapat memaknakannya secara tepat dan benar.
Refleksi
- Mari kita kembali mencermati sesuai kehendak Sang Ilahi, bahwa ‘hidup dan mati’ kita, hanya berada di bawah kuasa tangan Tuhan.
- Thomas a’ Kempis mengajak manusia untuk menyerahkan diri kepada Tuhan, baik dalam suka maupun duka.
- “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.”
(Amsal 16: 1). - Maka, dibutuhkan suatu kerja sama erat antara ‘rahmat yang diberikan oleh Tuhan’ (gratia operans), dengan ‘rahmat yang diusahakan oleh manusia’ (gratia cooperans). “Saudara, sekali lagi,
Jangan mau bunuh diri.
Lho!”
Kediri, 23 Maret 2026

