Kebahagiaan itu mirip seperti oksigen, ketersediaannya di bumi ini sangat berlimpah, bahkan selalu tersedia.
Ketika seseorang itu mengalami kesulitan untuk menghirup oksigen, pasti bukan karena oksigennya yang sudah langka, melainkan karena telah terjadinya gangguan di dalam sistem pernapasannya.
Demikian pula, jika kita kesulitan untuk bahagia, pasti bukan karena persediaan kebahagiaan itu sudah langka, melainkan karena telah terjadinya gangguan di dalam pribadi atau rohani kita.
Langkah ‘pertama’ untuk menikmati kebahagiaan itu adalah kita belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan dan berhenti membanding-bandingkan diri ini dengan orang lain
Orang yang selalu bersyukur adalah orang yang bisa menikmati keindahan dunia dan arti dari kebahagiaan hidup.
Selalu disyukuri yang telah dimiliki, tidak sebaliknya kita membanding-bandingkan dengan orang lain agar kebahagiaan itu selalu memenuhi hidup kita.
Sejatinya, sesuatu itu tampak indah, karena belum kita memilikinya. Bila kita sudah mendapatkannya, hal itu terasa biasa-biasa saja
Kapankah kebahagiaan itu akan didapatkan, jika kita hanya selalu memikirkan yang belum ada, dipunyai, tapi mengabaikan yang sudah dimiliki?
Jadilah pribadi yang selalu bersyukur dengan berkat yang sudah kita miliki.
Ciptakanlah rasa damai itu dalam hati, agar kita bisa membahagiakan diri sendiri.
Bukan kejadian yang membuat kita bahagia atau tidak, melainkan kita yang harus memilih di antara keduanya.
Kemarin sudah berlalu, esok belum tiba, kita hanya mempunyai 1 hari, yaitu hari ini.
Separuh manusia di dunia ini salah menebak arah dalam berburu kebahagiaan. Mereka berpikir, bahwa kebahagiaan itu isinya adalah “memiliki, mengambil, dan dilayani.”
Sejatinya yang benar, kebahagiaan itu adalah saat kita bisa memberi dan melayani sesama!
NN

