“Seorang Ayah akan mencintai anak-anaknya dengan diam. Walaupun sedih dan gagal, ia takkan membiarkan air matanya jatuh di hadapan putra-putrinya. Hanya satu yang diharapkannya, yakni agar anak-anak sukses dan bahagia.”
Tentang Yusuf, suami Santa Perawan Maria memang tidak disebutkan banyak dalam Kitab Suci, namun karakter ketulusan dan keiklasannya tetap dikenang sepanjang masa.
Pada Hari Raya St. Yusuf, mari kita merenungkan tentang diamnya Yusuf seperti yang tercatat dalam Injil Lukas. Mereka menemukan Yesus yang tertinggal di Yerusalem. Ketika Maria bertanya kepada Yesus, mengapa Ia menyusahkan mereka, tapi Kitab Suci tidak mencatat tentang reaksi Yusuf. Kendatipun demikian, ia tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah dan suami yakni menghantar pulang Maria dan Yesus ke Nazaret dan melanjutkan kehidupan keluarga mereka.
Pelajaran penting bagi kita di HR St. Yusuf ini adalah:
- 1) Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan banyaknya kata yang terucap. Kadang dalam momen tertentu, hanya diam, senyum, tatapan, dan pelukan saja sudah cukup untuk menentramkan orang lain;
- 2) Cinta dan perhatian tidak selamanya dinyatakan dengan kata dan bukti. Mencintai dengan diam adalah karakter seorang pencinta sejati, karena ia tidak mau membiarkan orang lain merasa terbebani dengan cinta dan perhatiannya;
- 3) Ketiadaan kata bukan berarti pasif, melainkan selalu memberi ruang bagimu untuk melakukan tindakan dan perbuatan baik dalam diammu.
Akhirnya sadarlah, bahwa banyak orang telah, sedang, dan akan memperhatikan, mencintai serta berkorban untukmu dengan diam mereka dengan harapan agar engkau sukses dan bahagia.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

