Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sopan santun ibarat minyak yang mengurangi gesekan satu dengan yang lain.”
(Demokritus)
Apakah Sopan Santun itu?
Secara definitif, ‘sopan santun’ adalah bagian hakiki dari filsafat etika. Perilaku manusia yang menunjukkan rasa hormat, kesopanan, dan kesantunan terhadap sesama lewat sikap dan kata.
Petuah Para Arifin
Kearifan hidup ini telah mengajarkan manusia, bahwa “Pribadi-pribadi bijaksana itu, bukanlah hanya milik orang-orang yang pandai secara intelektual, tapi juga mahir mengendalikan perilakunya.” Karena bukankah tindakan sombrono itu bagaikan senjata memakan tuan?
Sikap sopan santun itu tidak didapat dari keturunan (genetika), tapi harus dibangun di setiap waktu berdasarkan pemikiran dan tindakan kita. Sopan santun itu adalah salah satu komponen penting, agar kita dapat membuka pintu sukses.
Mari, kita belajar mengembangkan sikap yang baik di mana pun berada, sebagai awal yang baik untuk meraih sebuah cita-cita. (Inspirasi Lima Menit)
Pandangan Filosofis tentang Sopan Santun
Berikut ini akan ditampilkan ‘tiga tokoh agung’ yang telah berkontribusi dengan memberikan pandangan hidupnya soal vitalnya sikap bersopan santun di dalam kehidupan ini!
- Konfusius: sang arifin asal negeri tirai bambu China ini berpendapat bahwa ‘”sopan santun itu inti (li), dari kehidupan moral yang menunjukkan rasa hormat dan kesopanan kepada sesama.”
- Aristoteles: sang filsuf asal Yunani kuno ini berpendapat, “sopan santun itu adalah bagian hakiki dari kebajikan moral, sebagai keseimbangan antara kesopanan dan kejujuran.”
- Immanuel Kant: sang filsuf asal Jerman ini berpendapat, ‘sopan santun itu adalah sebuah kewajiban moral yang menunjukkan rasa hormat terhadap martabat manusia.’
Konklusi
Dari balik pandangan dan sikap ketiga tokoh agung ini, maka dapat disimpulkan, bahwa “sikap sopan santun itu mencerminkan kesadaran terdalam dari dalam diri manusia akan nilai-nilai kemanusiaan dan bagaimana relasinya dengan sesama manusia.”
Refleksi
“Aku akan menjaga tingkah lakuku, supaya aku jangan berdosa dengan lidahku; aku akan menjaga mulutku
dengan pengawasan, selama orang fasik ada di depanku.”
(Mazmur 141 : 3)
Kediri, 19 Maret 2026

