Calon Mantu – 16 | Oleh Mas Redjo
Jujur, awalnya, saya tidak sependapat dengan ide Bagas, ketika usaha tengah sepi, ia malah meminta pada saya untuk menambah karyawan. Ternyata maksudnya untuk membenahi tata kelola usaha. Sehingga, jika seusai lebaran pindah kantor, sistem usaha itu sudah rapi dan langsung jalan.
Ketika saya menceritakan pada In tentang penilaian kolega terhadap Bagas, In menanggapi dengan santai.
“Baguslah.”
“Seharusnya kau senang,” omel saya.
“Senang itu tidak perlu diungkapkan berlebihan,” kilahnya sambil tertawa renyah.
“Biasanya kau agak emosian,” ledek saya sambil bergelak.
“Oh ya? Kalau begitu saya harus banyak senyum atau ketawa,” balas In.
“Aku melihat Bagas makin mantap. Percaya diri. Kenapa? Ia komitmen dan konsekuen. Ia juga tidak menyinggung niat untuk kuliah lagi.”
“Syukurlah. Saya sendiri masih ada yang mengganjal di hati soal Dini. Sebenarnya apa yang dicari dalam hidup perkawinan ini? Gelar akademisi itu penting. Tapi lebih penting lagi, kita dapat hidup layak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi, jika kita mampu berbagi,” desah In masgul.
Selanjutnya baca di Calon Mantu – 16 | Ketika Diremehkan, Lebih Baik Memberi Bukti

