1.
Garis dan Warna
Jari jemari erat memeluk alat tulis
Telapak juga berdendang dengan kuas
Mereka berdendang dan menari di atas kanvas, ubin dan kayu
Irama nalar dinamis mengalun berkelana
ikuti pesona melodi nurani jiwa
Terus berubah dalam ruang dan waktu
Ada makna terpatri di panggung ziarah
Garis-garis berbakti memberi makna
Warna-warni melukis suka duka
Manusia menoreh pengalamannya
Relasi pribadi dengan sesama saudara
Ikatan mutlak diri dengan alam semesta
Entah sebagai apa dan siapa
2.
Agama Cinta – Hukum Kasih
Seperti langit tak ada tiang
Laksana samudra tak ada sekat
Bagaikan bumi tak punya suku bangsa
Seperti udara tak punya organisasi
Bagai ruang dan waktu tak ada orangtua
Hanya cinta yang memeluknya
Hanya kasih sayang merangkulnya
Manusia terlahir dalam ruang dan waktu
Udara dihirup tanpa bayar
Makan minum dan hidup dari tanah alam semesta
Dibelai ombak gelombang tanpa diskriminasi
Dilindungi angkasa tanpa membedakan
Hanya hukum alam yang jadi irama
Hanya aturan semesta yang jadi nada
Manusia tak waras merasa berkuasa
mampu menciptakan aneka agama
Insan yang edan berlomba kreasikan Tuhan
lalu dijadikan boneka dan sampah selera
Beragam tradisi diwarisi tanpa nalar kritis
lalu sesumbar mengklaim kebenaran milik dirinya dengan nafsu iri dengki sadis
Bahkan merusak alam dan membunuh sesama diyakini suci
Sejatinya kita semua insan sama
Ada energi hakiki yang penuh makna
Kita selalu lapar cinta
Kita selalu dahaga kasih sayang sesama
Namun…
entah apa yang merasuk jiwa raga
Agama cinta dianggap utopia
Hukum kasih sayang disebut musrik dan ganja
Maka…
apa dan siapa diri kita sebenarnya?

