Red-Joss.com | Bayi lahir, lalu menangis itu normal, alami, dan sehat.
Begitu pula saat kita menangis itu juga hal yang wajar dan biasa.
Menangis karena terharu, bahagia, atau sedih, ketika kita terbawa oleh perasaan; emosi. Asal, kita tidak menangis sekadar berpura-pura untuk mengelabui orang lain, karena itu suloyo.
Menangis, jika merupakan hal yang wajar dan biasa, apakah kita juga pernah menangisi diri sendiri?
Lho, tidak harus kaget, melotot, sewot, atau bengong seperti itu.
Menangis, menangisi diri sendiri itu baik, ketimbang dada ini menyesak, karena terhimpit beban kesalahan atau penyesalan.
Meluapkan emosi itu juga baik agar dada ini jadi longgar, plong, dan nyaman.
Pertanyaannya sederhana, setelah kita menangis menyesali kesalahan, lalu apa tindakan kongkrit kita selanjutnya?
Hal yang harus dicerna, diresapi, dan ditindak-lanjuti, yaitu agar kita tidak jatuh ke dalam lubang yang sama. Kita mengulang-ulang kesalahan dan dosa. Tapi lebih jauh lagi, agar kita melihat akibat dari perbuatan dan kesalahan kita pada orang lain dan pada diri sendiri.
Berbuat salah pada orang lain itu menyinggung perasaan, melukai, atau membuatnya malu. Akibatnya, hubungan meruncing, merenggang, atau bubaran alias putus. Lebih parah lagi, jika hubungan yang awalnya baik itu jadi bermusuhan dan dendam.
Begitu pula akibat perbuatan salah terhadap diri sendiri. Jika hal itu dibiarkan berlarut-larut membuat kita selalu merasa benar, egoistis, dan sombong.
Alangkah bijak, jika kita rajin refleksi diri dan mohon berkat Allah untuk melihat perilaku sendiri. Sehingga kita cepat sadar diri dan berani minta maaf pada teman. Sekaligus kita mengubah dan perbaiki tingkah laku agar kita berhati-hati dalam bertutur kata maupun berperilaku.
Sesungguhnya, dengan menangisi diri sendiri, kita diajak memperbaiki diri untuk menjauhi kesalahan dan perbuatan dosa.
Dengan bertobat, kita terus berbenah untuk berubah dan berbuah. Hidup bermakna bagi sesama.
…
Mas Redjo

