Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Anak itu ibarat selembar kertas putih”
(Teori Empiris John Locke)
Ramalan akan Hari Depan Anak
Kita sudah sering kali mendengar, bahwa ada orangtua yang meramalkan nasib hidup anak dan masa depannya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, karena ada orangtua yang berani meramalkan anaknya akan jadi ini dan atau itu.
Tidak jarang pula kita mendengar berupa lontaran aneka pertanyaan dari orang dewasa kepada si kecil, semisal, “Nak, mau jadi apa kamu kelak? Dokter? Polisi? Presiden? Atau? Tidak jarang pula si kecil itu akan menjawab, tentu dengan sekenanya saja sesuai kemampuan daya berpikirnya.
Filosofi Pendidikan dan Psikologi Perkembangan
Berdasarkan Aspek Filosofi Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, maka terdapat ‘tiga buah teori’ saat anak baru dilahirkan!
- Teori Tabula rasa: (John Locke). Anak yang dilahirkan ibarat selembar kertas kosong, tanpa sifat bawaan.
- Nature: Anak yang dilahirkan ibarat sehelai kertas yang sudah ditulis penuh. Artinya di anak sudah membawa sifat-sifat bawaan yang sudah dibentuk.
- Gabungan Nature dan Nurture: anak yang dilahirkan ibarat sehelai kertas yang sudah tertulis penuh, tapi buram. Artinya si anak yang lahir telah memiliki potensi bawaan, tapi perlu diasuh dan dikembangkan lagi.
Lima Ciri Anak yang Memiliki Potensi Kepemimpinan
Dalam hidup ini, setiap orangtua tentu mempunyai mimpi masing-masing bagi masa depan kepemimpinan anak. Adapun aspek sentral yang jadi sorotan sebagai esensi dari tulisan ini, “Bagaimana cara anak menghadapi realitas dunianya. Dalam konteks ini, bukan soal pintar atau populernya anak, tapi soal pola sikapnya yang tampak konsisten.”
Inilah “Kelima Tanda Nyata Bakat Kepemimpinan”
- Anak yang berani berinisiatif dengan tanpa diminta. “Yo, kita bermain, yuk!” Inilah sebuah ajakan sebagai inisiatif yang mengalir dari dalam dirinya.
- Anak yang mampu mengatur ritme emosinya di saat-saat sulit. Ia sangat bijaksana. Ketika marah, ia akan segera pulihkan keadaan. Jadi, ia tidak larut dalam kondisi kemarahan.
- Anak yang memiliki rasa tanggung jawab. Ia bahkan berani untuk bersikap tanpa sungkan. “Maafkan teman-teman, saya yang bersalah!”
- Anak yang mengerti perasaan orang lain. Ia sangat peka dan memiliki empati terhadap teman-temannya.
- Anak yang selalu mau mencoba hal-hal baru, sekalipun ada juga rasa takutnya. Bukankah biasanya kebanyakan anak hanya ingin zona nyaman? Tapi, ia justru selalu penasaran untuk mau mencobanya.
(Dari berbagai Sumber)
Bagaimanakah Tindak Lanjutnya?
Setelah kita mencermati dengan saksama “kelima pola tingkah anak yang memiliki bawaan kepemimpinan,” maka apa yang perlu disikapi sebagai sebuah tindak lanjut?
Maka: sadarilah, pupukilah, doronglah, dan suportilah potensi kepemimpinan anak itu lewat reaksi serta tindakan-tindakan yang mendukung, agar potensi di anak itu makin bertumbuh.
Semisal, berikan tugas dan tanggung jawab penuh kepadanya untuk menangani tugas-tugas tertentu, semisal,
(1) anak ditugaskan untuk membangunkan adiknya dari tidur.
(2) Memelihara tanaman, atau pun
(3) membersihkan kendaraan Ayahnya. Atau juga
(4) ia ditugaskan untuk memimpin doa sebelum dan sesudah makan, dll.
Refleksi
Perpaduan Harmonis antara “Karunia dan Latihan” bakal Melahirkan Kepemimpinan Tangguh
(Donum et Exercitatio)
Kediri, 16 Maret 2026

