Seorang anak SD kelas satu mengikuti Misa Kudus bersama kedua orangtuanya. Sebelum Misa dimulai, ia bertanya kepada orangtuanya, “Bapa, di dalam sini, di mana saya bisa melihat Tuhan Allah?” Bapak dan Ibunya bingung untuk menjawab anaknya.
Bapaknya tidak kehabisan akal. Kemudian ia memeluk anaknya, lalu menunjuk ke bagian atas Altar dekat dengan atap Gereja. Jendela-jendela kaca yang dilapisi gambar-gambar kudus yang berwarna-warni, saat ditembusi cahaya matahari, memancarkan terangnya ke dalam Gereja. Tampaknya sangat indah dan memberikan kesan keagungan dan kesucian. “Itu menggambarkan ada Tuhan Allah.” Anak itu mengerti dan tidak bertanya lagi.
Kehadiran Tuhan Allah mengharuskan kita untuk melihat-Nya. Tuhan tentu tidak senang dan kecewa, jika kita tidak dapat mengenalnya melalui indra dan iman kita untuk mengakui-Nya.
“Apa jadinya, kalau kita tidak dilihat dan dikenal?” Kita pasti kecewa, marah dan sakit hati. Oleh karena itu di dalam hubungannya dengan manusia sepanjang sejarah keselamatan, Tuhan selalu memberikan perintah dengan berkata: Lihatlah atau dengarkanlah.
Kita diperintahkan untuk melihat kemuliaan Tuhan yang hadir di dalam diri ini dan di sekeliling kita. Tuhan memberikan kemampuan melihat kepada kita, secara umum ada dua. Yang paling mudah kita lakukan ialah dengan menggunakan indra mata, kita dapat melihat semua yang ada pada kita dan di sekeliling kita. Mata tubuh yang buta pasti membatasi kita untuk melihat semua keindahan dan kemuliaan Tuhan yang seharusnya kita lihat dan kagumi. Bila Anda mengalami gangguan pada mata tubuh, usahakanlah penyembuhan dan pemulihannya, karena dengan begitu Anda menjalankan kehendak Tuhan.
Yang lebih sulit untuk dilakukan ialah menggunakan mata iman atau mata hati kita. Kemampuan melihat ini sangat didukung oleh sebuah kematangan rohani, yaitu kemampuan melihat dalam terang Ilahi. Dengan iman yang kita miliki dan hidupi, kita sebenarnya memiliki kemampuan melihat seperti yang dilihat oleh Tuhan.
Nabi Samuel, pada waktu memilih Daud dari antara saudara-saudaranya yang lebih tua, sesungguhnya mengajarkan kita, supaya harus memakai cara melihat dari hati dan mendapatkan maknanya di dalam hati.
Kita perlu membiasakan diri kita untuk hidup selalu sebagai anak-anak terang, yaitu dalam bimbingan sabda Tuhan dan bersemangat di dalam kasih-Nya. Dengan demikian, mata tubuh dan mata hati kita dapat membantu kita untuk menerima, mengakui dan menyukuri kemuliaan Tuhan dalam hidup kita.
“Ya, Tuhan, semoga dengan perayaan Ekaristi Minggu ini kami semakin bersemangat dalam menyiapkan hari Raya Paskah yang sebentar lagi kami merayakannya. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

