“Peraturan dan perundangan yang dibuat untuk dilanggar itu datang dari si Jahat. Tapi untuk ditaati, karena kita ingin hidup disiplin, tertib, teratur, nyaman, dan damai.” -Mas Redjo
…
Apa pun motivasi dan alasannya, jika peraturan dan perundangan itu dibuat untuk dilanggar, berarti ada udang di balik batu. Bermain pat gulipat untuk mencari kemudahan, memperkaya diri atau kepentingan kelompoknya.
Jika peraturan dan perundangan itu dilanggar oleh pemangku kebijakan, ya, maaf, itu tidak ada kaitannya dengan kita, apalagi dengan saya pribadi.
Saya tidak sependapat, jika banyak orang lalu memboikotnya. Misalnya, karena uang derma diselewengkan pengelolanya, kita jadi malas dan tidak mau berderma lagi. Padahal beramal itu kewajiban kita, dan hendaknya ikhlas hati.
Begitu pula dengan uang pajak yang diselewengkan pengurusnya itu tidak identik untuk diboikot juga. Karena membayar pajak itu adalah kewajiban kita semua sebagai warga negara yang baik.
Sejatinya, peraturan, perundangan, atau tata tertib itu dibuat, baik yang lisan atau tertulis, tujuannya adalah untuk dipatuhi demi kebaikan kita bersama agar taat, tertib, disiplin, dan nyaman. Sebaliknya bagi yang melanggar juga harus siap dengan resiko dan akibatnya.
Coba lihat bagi orang yang sering menyepelekan dan melanggarnya di sekitar kita. Misalnya kecelakaan mobil, karena mengemudi sambil bermain hp; motor yang menyalip mobil dari sebelah kiri, atau melanggar lampu merah, sehingga terjadi tabrakkan. Juga Emak-emak yang naik motor, ngesennya ke kiri, tapi belok ke kanan, dan itu membuat pengendara lainnya jadi gugup, jika tidak berhati-hati.
Sekali lagi untuk dicermati dan dipahami kita bersama!
Bahwa peraturan, perundangan, dan tata tertib dibuat itu tujuannya untuk mendisiplinkan diri sendiri agar kita taat, tertib, teratur, nyaman, dan damai.
Sebaliknya, jika peraturan dan perundangan itu dibuat tumpang tindih seenak oleh para pemangku kebijakan dan berkuasa, apakah kita siap mengantisipasi untuk memberi solusi?
Jawabnya adalah mereka yang membiasakan hidup sadar diri: ‘eling lan waspada’ untuk disiplin beretika dan berbudaya itu yang mampu menyikapi dengan bijak.
Berbahagialah orang yang hidup jujur dan benar, karena didasari semangat kerendahan hati.
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

