Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yoh 9: 3).
Injil mengisahkan tentang Yesus yang menyembuhkan mata seorang yang buta sejak lahir. Ungkapan Yesus ini patut direnungkan: orang tersebut lahir buta bukan karena dosanya maupun dosa kedua orangtuanya, melainkan agar pekerjaan Allah dinyatakan melalui dirinya.
Penderitaan, dukacita, kesusahan, dan kejatuhan yang kita alami itu kadang membuat kita merasa putus asa, bahkan berpikir, bahwa Allah telah meninggalkan kita. Tapi Yesus kembali mengingatkan, bahwa segala kesulitan yang kita hadapi itu justru dapat jadi sarana bagi Allah untuk menyatakan kemuliaan dan pekerjaan-Nya yang melampaui segala pemikiran kita. Hal ini diteguhkan dengan firman Allah, bahwa cara-Nya melihat berbeda dengan cara manusia melihat dan pekerjaan-Nya sering kali melampaui pikiran manusia (bdk. 1 Sam 16: 7b).
Orang buta yang disembuhkan itu telah mengalami pekerjaan Allah secara nyata dan pengalaman itu meneguhkan imannya, bahwa Yesus adalah Anak Manusia yang dijanjikan.
Bagaimana dengan kita? Apakah penderitaan hidup membuat kita makin mampu melihat pekerjaan Allah, atau justru membuat kita menutup mata dan menjauh dari-Nya?
Fr. Gerardino Ferreri, CSE
Minggu, 15 Maret 2026
Hari Minggu Prapaskah IV
1 Sam 16:b1.6-7.10-13 Mzm 23: 1-6 Ef 5: 8-14; Yoh 9: 1-41
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

