Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Walaupun tidak kelihatan, kegigihan adalah kekuatan yang bisa menyingkirkan berbagai rintangan.”
(David Herber Lawrence)
Antara: Mata, Otak, Hati, dan Tangan Manusia
Hidup ini adalah sebuah proses lewat sebuah dinamika yang mengalir dari dalam diri seorang manusia sebagai sang inisiator, dan akan terekspresi lewat sebuah tindakan konkret.
Kesadaran itu bermula dari “mata yang melihat, otak yang berpikir keras, hati yang mampu tersentuh dan terejahwantakan lewat gerakan tangan yang akan mengeksekusinya.
Lewat proses ini, terdapat sebuah rangkaian proses yang diawali dari kesadaran di dalam diri manusia, hingga terciptalah sebuah hasil karya nyata.
Seorang Pria dengan Pohon-pohon Indah
Seorang Pria tua dari Perancis, sepeninggal sang istri dan putra sematang wayangnya, pun terombang-ambing hidupnya. Ia lalu pergi ke sebuah lembah subur di Cevennen demi melupakan kepahitan hidupnya.
Setibanya di sana, ditemukannya reruntuhan dari lima buah desa yang sudah tanpa penduduk lagi. Dari dalam hati, disimpulkannya, bahwa jika ia tidak segera menanam pohon, maka kelak desa itu pun akan jadi padang gurun.
Setiap kali saat menggembalakan dombanya, dia memungut dan membawa biji pohon oak yang ditemukannya. Biji-biji itu kemudian direndamnya dan pada hari berikut ditanamnya.
Dalam kurun waktu tiga tahun, dia telah menanam 100.000 biji oak. Dalam hatinya, dia selalu berharap agar Tuhan merestui usahanya itu.
Ketika dia meninggal pada tahun 1947 dalam usia 89 tahun, dia telah berjasa dengan meninggalkan salah satu area hutan terindah di Perancis. Di situ, kini terbentanglah hutan sepanjang 11 kilometer dan selebar 3 kilometer.
Dampaknya, kini ribuan bahkan jutaan akar pohon telah menampung air hujan dan menyerapinya. Apa yang terjadi? Kini timbullah mata air yang tersembul indah, bentangan rerumputan menghijau permai, serta ribuan ekor burung bersarang dengan nyaman. Tapi yang paling mengejutkan, kini ribuan penduduk dari desa itu telah kembali menetap di sana.
Anehnya, ternyata di antara ribuan penduduk desa nan sejahteta itu, tak seorang pun yang tahu, kepada siapa mereka perlu berterima kasih.
Willi Hoffsuemmer
(1500 Cerita Bermakna)
Dari Mana Datangnya Keajaiban itu?
Ada sebuah pertanyaan bermakna, “Dari manakah datangnya keajaiban dalam hidup kita?”
Keajaiban itu datang lewat “mata, otak, hati, dan tangan yang tulus serta cinta yang sejati.”
Keajaiban itu datang kala Anda dan saya, mau berkorban demi turut membangun kehidupan ini.
Keajaiban itu, tentu tidak seketika turun dari langit. Karena roh dan spirit misteri itu, justru bercokol di dalam ketulusan jiwa manusia.
Refleksi
“Kebaikan itu tidak pernah sia-sia. Seandainya tidak ada hasil bagi penerimanya, paling tidak itu akan menguntungkan bagi yang memberikannya.”
(S.H.Simmons)
“Gloria Dei Homo Vivens”
“Kemuliaan Allah Berkembang lewat Manusia yang Hidup”
(Santo Irenius)
Kediri, 15 Maret 2026

