“Allah tidak tergerak oleh prestasi rohani kita, tapi oleh hati yang rendah. Rendah hatilah dan nikmati kerahiman-Nya.”
Dalam Injil, Yesus menceritakan tentang dua orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Yang satu adalah orang Farisi yang saleh dan dihormati. Yang lain adalah pemungut cukai yang dikenal sebagai pendosa.
Doa mereka sangat berbeda. Orang Farisi itu berdiri dan menceritakan semua perbuatannya yang baik, perihal puasa, ketaatan, dan persembahannya. Doanya hanya berputar pada dirinya sendiri.
Sebaliknya, pemungut cukai itu berdiri jauh di belakang. Bahkan ia tidak berani menengadah ke langit. Ia hanya berkata dengan tulus: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Ya, Allah, doa yang sederhana ini sungguh menyentuh hatiku. Karena
Sering kali aku juga menilai diriku dari yang kulakukan: keberhasilan, usaha, bahkan kegagalanku. Tapi Engkau mengingatkanku melalui Nabi Hosea: “Yang Kukehendaki ialah kasih setia, bukan korban sembelihan.”
Ciptakanlah dalam diri kami hati yang baru, ya, Allah: hati yang remuk dan rendah seperti Pemazmur, sebab hati seperti itu tidak pernah Engkau pandang hina.
Aku datang kepada-Mu, ya, Allah, dengan segala kelemahan dan dosa. Aku percaya, bahwa Yesus membuka pintu pengampunan melalui salib-Nya.
Yesus, aku percaya kerahiman-Mu.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

