Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Homo Homini Lupus”
(Thomas Hobbes)
Homo Homini Socius
Versus
Homo Homini Lupus
Dalam ilmu filsafat manusia, Prof. Nikolaus Driyarkara, SJ, sang filsuf asal Indonesia mengemukakan, bahwa sifat dasar dari kodrat manusia, adalah sebagai “Homo Homini Socius” – “Manusia adalah sahabat bagi sesamanya.” Ungkapan yang sangat nyentrik ini dilontarkannya sebagai lawan dari ucapan “Homo Homini Lupus” – “Manusia adalah serigala bagi sesamanya.”
Siapakah Abraham Lincoln?
Dialah sosok sang arifin nan otentik, Presiden ke-16 Amerika Serikat yang juga dikenal sebagai figur pendamai dan pribadi yang cinta damai di hadapan para lawan politiknya.
Dari aneka tuturan lewat pidato-pidato dan sikap kebijaksanaannya, mala lahirkan statemen menarik dan bermakna, antara lain, seperti ‘ke-10 frase kamu tidak bisa’ berikut ini!
Kesepuluh Frase ‘Kamu Tidak Bisa’:
- Kamu tidak bisa makmur, jika kamu meremehkan pentingnya sikap hemat.
- Kamu tidak bisa menolong sesamamu, jika kamu hancurkan orang jahat.
- Kamu tidak bisa menguatkan si lemah, jika kamu lemahkan orang kuat.
- Kamu tidak bisa menaikkan gaji, jika kamu jatuhkan si kasir.
- Kamu tidak bisa membantu sesama yang miskin, jika kamu hancurkan si kaya.
- Kamu tidak bisa keluar dari masalah, jika pengeluaranmu lebih besar daripada pemasukan.
- Kamu tidak bisa memupuk persaudaraan, jika kamu suka memupuk pertentangan.
- Kamu tidak bisa membangun rasa aman, jika kamu hidup berutang.
- Kamu tidak bisa membangun karakter keberanian, jika kamu singkirkan kemerdekaan sesamamu.
- Kamu tidak bisa terus membantu sesamamu, jika kamu melakukan hal yang bisa dilakukan sesamamu itu.
(1500 Cerita Bermakna)
Makna Terkandung di Dalamnya
Lewat ‘kesepuluh tuturan yang bermaka’ ini, sesungguhnya Presiden nan arifin ingin membangun kesadaran dalam diri setiap manusia akan pentingnya sikap keseimbangan dan tanggung jawab sosial di dalam hidup bermasyarakat.
Jika dijabarkan, makan konkretnya bahwa:
- (1) Setiap tindakan manusia pun memiliki konsekuensi sosial pula.
- (2) Menekankan, bahwa betapa sentralnya sikap berempati, kerja keras, dan tanggung jawab.
- (3) Mengingatkan manusia, agar berpikir tentang dampak dari setiap tindakan kita terhadap sesama.
Untuk itu wahai saudara, hendaklah kita hidup dengan:
- Membantu sesama tanpa merugikan pihak-pihak lain.
- Berpikir dan merefleksikan tentang dampak dari setiap tindakan kita.
Refleksi
Dengan demikian, maka kita akan sanggup membangun spirit kehidupan dan kemanusiaan yang lebih harmonis serta seimbang.
“Ubi Amici, Ibidem Opes”
“Di Mana ada Sahabat, di Sana ada Kekayaan”
(Plautus)
Kediri, 14 Maret 2026

