Tuhan sebagai Yang Mahakuasa dan Mahatinggi tidak bisa digambarkan dalam perkataan dan tindakan-Nya hanya sebagian, setengah, atau beberapa saja. Itu sama saja dengan menganggap Dia tidak mampu atau menurunkan kekuatan-Nya. Ia selalu dan tetap dipandang berkata dalam kepenuhan dan berbuat dalam keseluruhan. Tuhan mencintai seorang bayi dengan cinta-Nya penuh, demikian juga kepada seorang kakek berusia 90 tahun. Itu berarti di dalam Tuhan tidak ada yang namanya mengasihi sedikit, sebagian, atau setengah saja. Sebaliknya Ia mengasihi dengan segenap hati. Ia mengasihi dengan penuh dan total.
Tuhan adalah pemilik cinta kasih dengan segenap hati. Di dalam kepenuhan ini terdapat kuasa-Nya untuk mengampuni, bukan dengan cicilan tiap minggu atau tiap bulan atas dosa-dosa manusia. Melainkan Ia mengampuni satu kali secara penuh. Jika manusia kembali berbuat dosa, Ia juga mengampuni satu kali lagi secara penuh.
Nubuat Nabi Hosea menggambarkan Tuhan Allah dalam kuasa-Nya untuk mengampuni, lalu memulihkan umat-Nya secara total. Sebagai Pemilik belas kasih dan kerahiman, Ia mencurahkan kita rahmat supaya kita ikut mengampuni seperti Dia. Jika kita kekurangan semangat untuk mengasihi dengan segenap hati, kita temukan jalan untuk datang kepada-Nya supaya diperkuat lagi dengan kemampuan mencintai sepenuhnya.
Tuhan yang pertama mengasihi kita dengan segenap hati. Melalui berbagai pengalaman dikasihi itu, kita belajar untuk mengasihi seperti diri-Nya. Yesus melakukan pelayanan publik di sekitar Galilea dan banyak daerah di sekitarnya dengan pusat ajaran-Nya ialah cinta kasih. Di mana-mana terdapat orang kagum dan jadi tertarik dengan-Nya. Seorang ahli Taurat merasakan ada panggilan untuk mencari Yesus agar mendapatkan pencerahan tentang kebenaran belas kasih Allah. Ia ternyata dapat menemukan orang yang benar dan tepat, yaitu Yesus Kristus.
Dari Yesus kita memperoleh hukum cinta kasih yang utuh. Kita mengasihi Bapa dalam dan melalui Dia. Kalau orang mengenal, mengerti, dan mengasihi Allah di Surga tanpa melalui Yesus Kristus, berarti pembenaran Kristiani dalam diri mereka pantas dipertanyakan. Kita mengasihi sesama sebagai penghayatan ajaran dan teladan-Nya yang berkorban demi kebaikan dan keselamatan umat manusia. Ajaran-Nya di dalam kitab suci yang terkenal dengan “Kotbah di Bukit” dan “Sabda Bahagia” itu menunjukkan betapa Yesus sudah mempersiapkan secara penuh perincian tindakan kita dalam mengasihi sesama.
Hukum mengasihi dengan segenap hati itu bukan sekadar dikaruniai atau ditaruh di dalam diri setiap manusia, melainkan terlebih-lebih dipelajari, dilatih, dan dimatangkan dari waktu-waktu supaya dapat menyerupai Kristus sendiri.
“Ya, Allah yang Mahakuasa, buatlah diri kami mengasihi Dikau dan sesama dengan segenap hati. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

