“Jangan menelanjangi aib sesama, karena kita tidak bisa menutupi aib sendiri di hadapan-Nya.” -Mas Redjo
Alangkah bijak, seberat apa pun kesalahan sesama pada kita, lebih baik itu dimaafkan dan dilupakan agar tidak membebani hidup kita sendiri.
Sederhana, tapi faktanya itu tidak semudah berteori dengan yang kita ucapkan. Karena dibutuhkan sikap kebesaran jiwa, kerendahan hati, dan ikhlas.
Pengalaman itu terjadi pada teman, sebut saja RM yang dihindari, atau tepatnya dijauhi DN. Padahal RM telah banyak membantu DN. Bisa jadi, karena merasa bersalah, DN malu hati dan tidak berani bertemu muka dengan RM.
Bagaimana tidak. Ketika datang di pesta pernikahan anak saya, DN tidak berani menemui RM. Padahal mereka berteman akrab. Saya juga menunjukkan tempat RM yang sedang berbincang di pojok hall itu. Sambil tersenyum mengiyakan, DN minta pamit. Alasannya, karena ia janjian dengan relasi bisnis.
Dari penjelasan RM tempo hari, ternyata DN menelikung pelanggan RM, yang telah memodali dan membantu pemasaran produk usahanya. DN silau keuntungan besar, sehingga ia memotong jalur distribusi RM, alias menyerobot pelanggannya.
“Berbuat salah itu manusiawi, tapi sadar diri untuk memperbaikinya itu anugerah Allah. Nyatanya DN takut menghubungi atau menemui saya,” jelas RM menyayangkan sikap DN. Meski kecewa, ia memaafkan dan melupakan perbuatan DN. Ia juga beberapa kali menghubungi DN, tapi tidak ditanggapi, bahkan hp-nya diblok.
Saya salut pada RM, karena setiap ditanya pelanggannya, “Mengapa ia tidak jualan dagangan DN lagi,” alasan RM adalah, karena “DN sudah mandiri dan mapan.” Tidak membuka aib, tapi menjaga nama baik DN.
Menurut RM, dengan kita memberi maaf, melupakan, dan mendoakan yang bersalah itu, kita berdamai dengan diri sendiri. Hidup pun tanpa ganjalan, beban di hati, dan damai.
Ikhlas itu mencerahkan jiwa!
Mas Redjo

