“Forgiving someone is an act of self care.” -Rio, Scj
Kita pernah jatuh dalam dosa. Namun nyatanya kita itu pendosa yang pilih-pilih. Kita nyaman dengan dosa sendiri, tapi keras pada dosa orang lain. Kita berbohong, tapi menghakimi penipu. Kita menipu, tapi menghakimi pencuri. Kita mencuri, tapi menghakimi pecandu.
Semua orang mempunyai garis moral versinya sendiri dan pura-pura berdiri di sisi yang benar. Ada kebiasaan yang kita maklumi. Pilihan yang kita benarkan. Kekurangan yang kita anggap wajar, tapi saat orang lain melewati garis kita. Kita berubah jadi hakim. Menunjuk dosa yang tak nyaman, sambil mengabaikan dosa sendiri. Menghakimi sambil mencaci dan menyombongkan diri.
Kita minta pengampunan untuk diri sendiri, tapi sulit memberi untuk orang lain. Padahal kita berdiri di tempat yang sama, hanya dengan kesalahan dan titik buta yang berbeda.
Mari kita berusaha untuk sempurna dengan rendah hati bercermin sebelum menghakimi. Kita mendengarkan sebelum berkomentar. Kita membenahi diri sebelum menunjuk dengan jari. Mengampuni sebelum amarah menguasai hati. Kita bukan mahkluk yang sempurna, melainkan dipanggil untuk jadi sempurna.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

