Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”
Demikian, sebuah “didaktika hidup” warisan sang leluhur bangsa kita.
“Via Dolorosa,” itu adalah “Jalan Penderitaan, Jalan Kedukaan.”
Saudara, ternyata sudah banyak orang sukses yang telah melintasi jalan penderitaan ini.
Dari si “pengais sampah dan penjaga parkir” jalan, ternyata, kelak dapat menjadi seorang “kepala sebuah koperasi” ternama, misalnya.
Dari hanya seorang “guru honorer,” yang terseok terlunta, ternyata, kelak menjadi seorang “rektor” di sebuah kampus universitas swasta ternama.
Saudara, kedua peristiwa getir hal ziarah “hidup sukses” seseorang telah membuktikan, bahwa memang di bumi ini, selalu ada pintu “terkuak lebar” bagi sang “pemberani.” Sang dia, yang ternyata mampu mengubah nasib hidupnya.
Bagi saya, dialah sang pemberani itu. Dialah sang pahlawan hebat yang mampu berpikir dan berjuang keras agar dapat dan segera ke luar dari kepahitan hidupnya.
Via Dolorosa adalah sebuah jalan panjang berkelok, berliku, bercuram, dan berterjal kersang. Sebuah jalan maha menantang serta mara bahaya.
Tiada cara, pun jalan lain, selain daripada anda dan saya, pun kita, untuk rela serta ikhlas bersakit-sakit dahulu, serta setia berpahit-pahit di dalamnya. Berlinang air mata, merasa malu dan terusir, ketiadaan uang dan beras, kehabisan tenaga dan daya. Itulah kemilau pernik-pernik genit dari “jalan penderitaanmu.”
Saudaraku, inilah selusin butiran manik-manik litani dari sebuah jalan terjal serta tantangan terbesar bagi hidup kita kini, di zaman serba instan ini.
Di zaman, orang-orang hidup sekadar berharap dan berulur tangan, untuk dapat mengenyangkan perut laparnya.
Ya, itulah zaman “bim-salabim.”
Anak-anak serta remaja kita kini, ternyata, tidak mampu untuk mengelola tantangan hidupnya. Mereka sudah dininabobokan dengan kemudahan-kemudahan hidup. Sikap santai dan bersenang-senang adalah irama hidup yang ditawarkan oleh dunia ini.
Teknologi hp, makanan serba instan, . . ternyata, perlahan, namun pasti, telah merenggut masa depan mereka.
Ironis pula, virus maha ganas itu, ternyata menjangkiti si anak dan remaja justru dimulai dari usia sangat belia dan dari dalam keluarganya sendiri.
Wahai, para orangtua sejati, para pendidik hebat, para agawan saleh, serta para cerdik cendekia, โฆ di manakah batang hidungmu?
Idealnya, seseorang, baru boleh memetik ranum buah anggur, justru setelah ia memanjatinya.
…
Kediri, 17 Februari 2023

