Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sekeping wajah sesamamu adalah ‘epifani’ penampakan Tuhan, yang memanggilmu untuk bertanggung jawab dan kasih”
(Emanuel Levinas)
Wajah, oh, Sang Wajah
Wajah, setiap manusia memiliki seraut wajah, sekeping organ tubuh unik. Dialah mentarimu. Dialah rembulanmu yang senantiasa kau sayangi. Wajah, adalah bagian tubuh paling esensial dan vital untuk mengenal seseorang. Dari ekpsresi wajah Anda, dapat dipahami siapa dan bagaimana kondisi fisik mental pemilik wajah itu.
(Aku yang Terjaga).
Makna Filosofis dari Sekeping Wajah
Ternyata sekeping wajah manusia itu memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Sekeping wajah itu tidak sekadar sebagai bagian dari tubuh Anda, tapi juga:
- Sebagai “cerminan identitas diri Anda.” Artinya ‘dari pancaran sekeping wajahmu itu telah mencerminkan, siapakah kamu?’
- Sebagai “ekspresi emosi dan perasaanmu.” Lewat ekpresi wajahmu, kamu telah berbicara tentang bagaimana suasana perasaanmu di saat itu.
- Sebagai “sebuah jendela menuju ke dalam jiwa batinmu.” Wajahmu adalah sebuah jendela yang akan membiarkan seseorang memandangi dirimu yang sejati.
- Sebagai “simbol relasi dengan Tuhan dan sesamamu.” Lewat ekspresi wajahmu yang khas itu, Anda telah menjembatani dirimu dengan Tuhan dan sesamamu.
Sekilas dapat itu dikonklusikan, bahwa “sungguh, wajahmu itu, adalah cerminan isi batinmu yang mau mengungkapkan, apa, mengapa, dan siapakah si pemilik dari sekeping wajah itu!”
Wajah Simbolik sebagai Cerminan Citra Tuhan
Pernah dikisahkan secara refleksif dan simbolik, bahwa ‘tatkala Sang Seniman Sejati (Tuhan) sedang menciptakan seorang manusia, maka Ia bersabda, “Kamu sungguh unik dan amat baik adamu. Aku akan selalu berada di dalam kamu, dan kamu pun berada di dalam Aku.” Inilah hukum kasih Tuhan. Sang Tuhan yang telah rela untuk bertranseden dan berimanen.
Refleksi
Ingatlah …!
- Kapankah seraut wajah Anda adalah benar-benar wajah otentik Anda? Maka, menangislah, kala Anda sungguh bersedih. Berbusung dadalah, kala Anda pantas membanggakan sesuatu. Selubungkan wajah, kala Anda pantas untuk merasa malu, dan bergoyanglah, di kala riang hatimu!”
- Ingatlah, justru di kala Anda jadi mayat, Anda baru benar-benar memiliki seraut wajah asli otentik, tanpa kamuflase.
- Maka, belajarlah dari sekeping wajah mayat, jika Anda ingin memiliki sekeping wajah yang sungguh wajah!
(Aku yang Terjaga)
Kediri, 10 Maret 2026

