Santo Efraim dari Siria yang hidup pada abad ke-4 Masehi, menulis tentang sembuhnya Naaman, tentara Siria, karena karunia Allah melalui nabi Elisa: “Naaman diutus ke Sungai Yordan dengan tujuan penyembuhannya, karena air itu dapat memulihkan manusia. Sesungguhnya, dosa merupakan kusta pada jiwa, yang tidak dapat diinderai, tapi inteligensi dapat membuktikannya. Kodrat manusia harus dibebaskan dari penyakit ini oleh kuasa Kristus yang tersembunyi di dalam pembaptisan. Penting sekali bagi Naaman, supaya sembuh dari dua penyakit, tubuh dan jiwanya. Ini tepat sekali untuk mewakili suatu rahmat pemurnian dan pengudusan segala bangsa dalam pemandian yang terus berlangsung, yang permulaannya di Sungai Yordan, ibu dan pemula pembaptisan.”
Naaman seorang dari luar lingkup Yahudi yang beriman, dan dianggap kafir. Tapi ia yakin, bahwa ada kuasa Tuhan yang dapat memberikan kesembuhan atas sakit kustanya. Ia memperoleh informasi itu dari hamba Israel yang bekerja padanya. Orang-orang dalam kategori ini cepat terbuka dan menanggapi pesan berharga soal keyakinan iman, karena mereka pada prinsipnya memerlukan Tuhan.
Naaman mewakili banyak orang yang jauh atau belum mengenal Tuhan. Mereka ingin masuk ke dalam iman kepada Tuhan melalui suatu proses penyembuhan jiwa dan raga. Raga mereka memiliki kekurangan bahkan sakit, karena berada jauh dan terlepas dari kedekatan dalam persekutuan iman. Jiwa mereka terlebih-lebih belum memiliki pokok untuk memberikan kebenaran mutlak tentang kehidupan dan menggantungkan harapan untuk keselamatan sesudah kematian. Proses ini tersedia di jalan Yesus Kristus melalui pembaptisan. Setelah Naaman, banyak orang di luar Yahudi yang menerima pembaptisan dan jadi anggota Gereja sampai saat ini.
Tindakan Naaman itu berlawanan dengan orang-orang di sekeliling Yesus, bahkan dari tempat asalnya yang sezaman dengan Naaman. Mereka sudah kuat dengan keyakinan sendiri, apalagi Yesus dianggapnya tidak lebih sebagai seorang yang sama dengan mereka. Karena mereka tahu betul kesederhanaan keluarga biologis Yesus, sehingga jadi tidak mungkin bagi mereka untuk percaya, kalau Ia memiliki kemampuan yang melebihi mereka.
Tuhan Yesus ingin agar kita sebagai pengikut-Nya penuh tanggung jawab untuk menerima Dia. Dengan menerima dan memiliki Dia, di mana dan kapan pun keberadaan kita, Ia hadir melalui kita dalam berbuat baik dan menciptakan pembaharuan.
“Ya, Allah yang Mahakuasa, kuatkanlah iman kami untuk dapat jadi saksi-saksi-Mu yang benar. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

