“Sadar atau tidak, tapi kadang fanatisme atau cinta buta menumpulkan daya kritis kita, sehingga yang baik kita tolak, sedangkan yang jahat kita peluk erat.”
Kalimat di atas jadi benar dalam pengalaman Yesus yang dikisahkan dalam Injil, di mana Ia ditolak oleh orang-orang sekampungnya sendiri padahal kehadiran-Nya di kampung Nazaret tidak merugikan atau mengganggu siapa pun.
Pengalaman penolakan yang dialami oleh Yesus ini membuat kita menyadari, bahwa;
1) Akibat egoisme dan fanatisme terhadap kelompok atau diri yang berlebihan membuat kita bukan hanya buta, melainkan kadang tumpul daya kritis kita terhadap yang terjadi dalam diri kita, dan susah menerima masukan dari orang lain;
2) Kadang kita merasa lebih aman dan mempertahankan kesalahan, sehingga menolak usulan baik dari sesama kita;
3) Bukan hanya orang lain dan idenya yang kita tolak, melainkan kadang kita menolak orang-orang terdekat kita; orangtua menolak anak-anak yang lahir cacat; anak-anak menolak orangtua yang sudah tua dan dianggap merepotkan; pun menolak saudara kandung kita dan lebih memilih orang lain.
Akhirnya sadarlah, bahwa jika di dunia ini Anda menolak orang baik dan perbuatan baiknya, maka di akhir hidupmu kejahatanlah yang menjemputmu untuk tinggal bersamanya dalam penderitaan abadi.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

