Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketika setangkai bunga tidak mekar, Anda memperbaiki lingkungan tempat ia tumbuh, bukan bunga itu sendiri.”
(Alexander Den Heijer)
Kala Anda Dibullying, oh, Pahitnya Hidup ini
Hidup manusia sebagai sebuah dinamika akan terus berlangsung hingga manusia itu meninggal. Memang tidaklah luput dari aneka tantangan serta hambatan, secara fisik, mental, serta spiritual. Jika hal itu sungguh terjadi, maka Anda pun tidak perlu berlari untuk meninggalkannya.
Apakah itu Bullying alias Perundungan?
Secara definitif dapat dijabarkan sebagai ‘perilaku yang tidak menyenangkan yang dilakukan seseorang atau pun sekelompok orang terhadap orang lain, baik secara fisik, verbal, atau pun online dengan tujuan untuk menyakiti atau mengintimidasi. Biasanya hal itu terjadi lewat cara: mengolok-olok, menakut-nakuti, memukul, mengisolasi, atau bahkan dengan menggosip alias memfitnah.
Perundungan di Tempat Kerja
Ketika kita mendengar kata ‘bullying’ atau perundungan, sering kali yang dibayangkan adalah sikap agresif seperti membentak, menyudutkan, atau bahkan kekerasan fisik kepada korban. Model perundungan, ketika ada atasan yang membentak bawahan di depan publik, menggebrak meja, atau sampai melakukan kekerasan fisik dikenal sebagai ‘the screamer’.
Faktanya banyak terjadi saat ini adalah perundungan yang ‘tidak berbunyi’, tapi terjadi dalam senyap. Tidak ada meja dibanting, suara keras, dan tidak ada e-mail marah yang viral. Rapat tetap berjalan seperti biasa, tapi kian lama individu makin merasa dirinya tidak berarti, karena menyadari adanya informasi yang berputar tanpa sepengetahuan dia. Demikian tulisan Eillen Rachman & Emilia Jakob dengan judul, “Perundungan di Tempat Kerja,” Kompas, Sabtu/Minggu, (7/8/3/2026).
Pahitnya kala Dibullying
Model the Schemer
Model perundungan yang lebih menyakitkan ialah, kala seseorang tidak diacuhkan lagi status keberadaannya. Semisal, seseorang yang ‘didiamkan begitu saja’ oleh atasannya. Ia tidak diajak untuk bertukar pandangan, tidak diajak untuk rapat bersama; namun di sisi lain, dia harus turut menanggung dampak, keputusan dari pertemuan atau aktivitas yang tidak menyertakan dirinya. Dalam sunyi, dia mulai merasa, bahwa dirinya mulai ditinggalkan begitu saja. Inilah wajah perundungan yang disebut ‘the schemer.’
Bagaimanakah Anda seharusnya Bersikap?
Menghadapi kondisi dingin dan suam-suam kuku seperti ini, hendaknya Anda tetap berkepala dingin. Ikutilah tata aturan lembaga sejauh Anda dilibatkan, dan bersabarlah, jika Anda tetap tidak diikutsertakan. Dalam kondisi seperti ini, sebetulnya Anda sedang dibullying secara senyap alias the schemer. Dalam konteks ini, sebetulnya atasan Anda sedang menyerang Anda secara tertutup alias secara senyap.
Refleksi
- Jika kelak Anda menghadapi sebuah realitas ‘perundungan secara senyap,’ semoga, Anda tetap bersikap tenang dan berkepala dingin.
- Sambil berusaha untuk tetap tegar dan berkepala dingin, tapi dengan jujur, bertanyalah kepada diri Anda sendiri, “Mengapa Anda justru dibullying secara senyap alias the schemer?” Apakah kesalahan Anda, sehingga dibullying di tempat kerja?
Sadarilah selalu, bahwa “Ketika setangkai bunga tidak mekar, Anda memperbaiki tempat ia tumbuh, tapi bukan bunga itu sendiri,” Demikian Ellen & Emilia mengakhiri tulisan mereka.
Kediri, 9 Maret 2026

