Perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur adalah gambaran tentang relasi antara Allah dan umat-Nya. Pemilik kebun anggur adalah gambaran Allah yang memercayakan dunia ini, hidup kita, berkat, dan tanggung jawab kepada kita, para petani. Kisah ini jadi tragis, karena para petani itu tidak setia; mereka menolak dan bahkan membunuh para hamba yang diutus, yaitu para Nabi, dan akhirnya juga Anak Sang Pemilik sendiri, Sang Juru Selamat.
Kita banyak menikmati berkat Tuhan, tapi lupa, bahwa hidup ini adalah titipan, bukan milik pribadi. Kita menolak Nabi-nabi dalam hidup kita, mereka yang membawa kebenaran, teguran, atau panggilan untuk berubah. Kita menolak, karena mereka mengganggu kenyamanan kita.
Penolakan terhadap keselamatan tidak selalu berupa pengingkaran eksplisit. Penolakan bisa muncul dalam bentuk sikap keras hati, kesombongan rohani, atau ketidakpedulian terhadap suara Allah dalam keseharian. Sebagai murid dan pengikut Yesus, apakah kita petani yang setia atau justru petani yang menolak kehadiran Tuhan?
“Ya, Tuhan, semoga kami selalu terbuka menyambut kehadiran-Mu dengan penuh kasih. Amin.”
Ziarah Batin

