“Ketika hati bersandar pada kekayaan, ia perlahan lupa cara mengasihi. Hati bersandar pada Tuhan, ia jadi pohon yang memberi keteduhan bagi sesama.”
Yesus menghadapkan kita pada dua orang: yang kaya berpakaian ungu serta hidup mewah, dan orang yang penuh luka itu terbaring di depan pintunya.
Tragedi orang kaya itu bukan karena ia kaya, melainkan karena ia tidak peduli dan lupa mengasihi. Hatinya ibarat semak di padang gurun, seperti yang dikatakan Yeremia: kering dan tidak berbuah.
Mungkin Lazarus pernah melayani orang kaya itu. Mungkin ia tahu wajahnya dengan baik. Tapi ia melihat Lazarus hanya sebagai orang yang berguna, bukan sebagai pribadi yang berharga.
Di sinilah bahayanya bagi kita. Berapa sering kita menghargai orang dari yang bisa mereka lakukan bagi kita? Berapa sering kita mengukur nilai dari produktivitas, keuntungan, atau kenyamanan?
Pemazmur berkata: orang benar seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air dan menghasilkan buah pada waktunya. Kasih adalah buah itu. Kerahiman adalah buah itu.
Melihat sesama sebagai anugerah; bukan alat, melainkan adalah buah itu.
Tuhan Yesus, Engkau bangkit untuk memperingatkan, sekaligus menyelamatkan kami. Jurang besar itu tidak tiba-tiba muncul di akhir hidup; tapi mulai terbentuk, ketika hati ini berhenti mengasihi.
Engkau menyelidiki hati dan menguji batin. Selidikilah kami, ya, Tuhan. Cabutlah akar egoisme kami. Tanamkan kami di tepi air hidup-Mu.
Dalam Ekaristi, Engkau tidak memberi kami remah-remah,
tapi diri-Mu sendiri. Ajarlah kami jadi roti bagi sesama agar kami bertumbuh dalam kasih, ketaatan, dan kepercayaan kepada-Mu.
Tuhan, kasihanilah kami orang berdosa. Hidupkan hati kami dengan cinta-Mu.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

