“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya jadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20: 28).
Hidup sebagai hamba Tuhan tidak selalu mudah dan lancar. Seperti yang dialami oleh Nabi Yeremia. Ia adalah seorang Nabi besar yang pada awalnya enggan menjawab panggilan Tuhan. Ia mencoba menghindari panggilan itu dengan berpura-pura kepada Tuhan, bahwa ia gagap, tidak tahu bagaimana berbicara dengan orang lain. Yeremia juga mengeluh kepada Tuhan mengenai kesepian dan penderitaannya berhadapan dengan orang-orang di sekitarnya.
Kelembutan dan keramahannya pun bukan jaminan untuk membuat orang lain menjauhi kejahatan. Namun, kedekatan Yeremia dengan Tuhan menunjukkan adanya cinta sejati. Sekaligus menguatkan dan menopangnya dalam segala tekanan serta kesulitan. Kedekatannya inilah yang memampukan dia melayani Tuhan dan sesama bukan dengan kekerasan atau penyalahgunaan kuasa, melainkan dengan kesabaran, kelemah-lembutan, dan kasih.
Demikian juga hendaknya, kasih Yesus yang jadi sumber kekuatan dan pengharapan kita. Sehingga kita senantiasa peka terhadap kebutuhan sesama; menolong mereka dalam kasih, kesabaran dan kelembutan, untuk semakin mendekat kepada Yesus.
Sr. Frances, P. Karm
Rabu, 04 Maret 2026
Yer 18: 18-20 Mzm 31: 5-6.14-16 Mat 20: 17-28
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

