Oleh Simly da Flores
Keajaiban alam semesta tersaji setiap waktu. Setiap orang berhak peduli atau tidak, lalu memberi makna sebagai apa.
Saya sering memotret fenomena alam yang mempesona diriku, kadang duduk memandang dan menikmatinya, dan ada obyek yang sering saya kunjungi seperti pantai dan laut. Sedangkan tentang keajaiban pagi hari, saya maknai sebagai sebuah kindahan musik. Lalu kutulis dalam sajak:
Konser Ajaib Tanpa Konduktor
Alunan melodi silih berganti
Iringi syair nyanyian waktu
Malam, subuh, dan pagi
sebelum bait cahaya fajar
dilantunkan bibir semesta
memulai pagi hari baru
Suara melodi burung malam
Bersahutan improvisasi kokok ayam
Ritme siulan burung kuau
iringan nada berpadu pipit
di antara gemulai gerak daun
berlenggok gemulai bersama angin
Rintik hujan pagi berirama
hentakan kaki di atas atap
melompat sirami daun pepohonan
Turun membasahi rerumputan
Disambut sorak gembira mempesona
Sebuah konser tanpa konduktor
Berkelana sepanjang malam
menyaksikan langkah-langkah waktu
Merasakan bunyi desah nafas
Menghitung getar dawai jantung
membawaku terlarut dalam hening
karena sesama pada lelap
Mungkin sedang terbuai mimpi
Langit pagi ini mendung
hujan terus rintik berderai
Sehingga senyum merekah fajar
tidak dapat terlihat mata
Sehingga cahaya lembut sang surya
belum terdengar menyapa damba
Namun
pesona konser ajaib semesta
alunan syair nyanyian alam
terus berkumandang aiaib sakral
Sebuah konser tanpa konduktor

